Jakarta, Swararakyat.com – Harga minyak dunia dilaporkan turun tajam hingga kisaran 13–17 persen pada perdagangan Rabu pagi, menyusul pengumuman gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran selama dua pekan.
Penurunan signifikan ini terjadi setelah pasar merespons positif meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait keamanan jalur distribusi energi global di Selat Hormuz.
Pada Selasa (7/4) malam, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa kedua negara telah menyepakati gencatan senjata bilateral selama dua pekan. Dalam pernyataannya, Trump juga menyebut bahwa pihak Iran memberikan jaminan terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu jalur vital perdagangan minyak dunia.
“Kesepakatan ini diharapkan mampu menurunkan eskalasi dan menjaga stabilitas distribusi energi global,” ujar Trump dalam keterangan resminya.
Pelaku pasar sebelumnya mencemaskan potensi konflik terbuka antara kedua negara yang dapat mengganggu pasokan minyak global. Selat Hormuz sendiri diketahui menjadi jalur strategis bagi sekitar 20 persen distribusi minyak dunia, sehingga setiap ketegangan di wilayah tersebut berdampak langsung pada harga energi global.
Analis pasar menilai, turunnya harga minyak merupakan refleksi dari berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga naik. Dengan adanya jaminan keamanan jalur pelayaran, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dinilai mereda dalam jangka pendek.
Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa kesepakatan ini bersifat sementara dan masih menyisakan potensi ketidakpastian apabila negosiasi lanjutan tidak membuahkan hasil permanen.
Pasar global kini akan mencermati perkembangan diplomasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran dalam dua pekan ke depan, yang akan menjadi penentu arah harga minyak dunia selanjutnya.













