Opini  

Demokrasi Terancam Fantasi Instan

Ilustrasi

Oleh: Effra S. Husein

Gerakan mahasiswa kerap jadi motor perubahan. Tapi kali ini, seruan yang lahir lebih mirip pelampiasan amarah daripada tawaran solusi

Seruan “Bubarkan DPR” yang belakangan menggema di jalanan seakan menyingkap wajah ganda gerakan mahasiswa: marah pada sistem, tetapi tak tahu bagaimana mengartikulasikan jalan keluar. Seruan itu lebih menyerupai jeritan frustrasi ketimbang program politik yang matang.

Dalam kerangka trias politica, membubarkan DPR berarti meniadakan pilar legislatif yang merepresentasikan rakyat. Demokrasi tak bisa bertahan hanya dengan eksekutif dan yudikatif itu justru pintu menuju absolutisme.

Dengan demikian, seruan ini bukan radikal dalam arti sejati, melainkan utopis sekaligus regresif. Ia kembali ke logika kerajaan atau diktator, bukan melampaui demokrasi. Ironinya, mahasiswa yang dalam sejarah Indonesia sering dipandang sebagai agent of change, kini justru terjebak pada slogan dangkal tanpa arah.

Bahaya terbesar dari slogan semacam ini adalah menjerumuskan gerakan ke jalan buntu. Alih-alih memperjuangkan reformasi struktural seperti hak recall anggota DPR yang gagal, perbaikan sistem pemilu, transparansi keuangan, hingga penguatan partisipasi rakyat mereka tergoda pada fantasi amputasi politik. Inilah yang disebut ilusi revolusioner: keinginan perubahan instan tanpa konsepsi, heroisme kosong yang lebih mirip agitasi teatrikal ketimbang kerja intelektual.

Seperti halnya fantasi erotis yang keliru dibaca sebagai realitas, slogan “Bubarkan DPR” hanyalah libido politis yang salah arah. Ia melampiaskan kemarahan, tetapi tak menyentuh akar masalah.

Alih-alih memperkaya demokrasi, ia justru mengancam keberlangsungannya. Maka, persoalan utamanya bukan sekadar kebodohan intelektual, melainkan krisis horizon politik mahasiswa: dari agent of change berubah menjadi agent of noise.

Pertanyaannya kini, apakah generasi muda sanggup keluar dari ilusi revolusioner ini? Atau justru tenggelam dalam gelombang retorika yang keras suaranya, namun hampa substansinya?

Semoga adik-adik mahasiswa mampu menyikapinya.