Perang yang berkecamuk antara Iran dan kekuatan internasional di Timur Tengah telah menimbulkan dampak lebih dari sekadar gelombang darah di medan tempur. Ketika konflik meningkat, harga minyak dunia langsung melonjak tajam karena kekhawatiran pasokan terganggu dan jalur energi strategis di kawasan menjadi rentan. Pasar global menjadi tidak stabil, pasar modal goyah, dan biaya produksi serta logistik ikut naik dampaknya bukan hanya dirasakan di negara besar, tetapi juga di pasar dan rumah tangga di seluruh dunia.
Ancaman blokade Selat Hormuz bukan isu jauh di Timur Tengah. Jika jalur ini terganggu, dunia seketika panik. Harga minyak dunia melonjak, ongkos impor membengkak, dan ujungnya selalu sama: BBM naik, harga pangan ikut menari.
Bagi elite global, Hormuz adalah soal strategi dan kekuatan geopolitik. Bagi rakyat, ini soal dompet yang makin tipis. Setiap konflik di sana hampir pasti berujung pada inflasi di sini. Sejarah berulang, polanya sama: dunia ribut, rakyat disuruh mengencangkan ikat pinggang.
Penutupan total mungkin sulit, tapi gangguan kecil saja sudah cukup membuat pasar panik. Harga naik bukan hanya karena minyak habis, tetapi karena ketakutan dipelihara di pasar. Dunia elite berbicara soal strategi militer, sementara yang paling cepat jatuh bukanlah rudal, melainkan daya beli rakyat kecil.
Pemerintah tak bisa sekadar berharap konflik mereda. Ketergantungan energi harus diputus dari akar, dengan percepatan transisi energi, diversifikasi pasokan, dan penguatan cadangan strategis. Jika Selat Hormuz benar-benar memanas, ini bukan sekadar isu geopolitik ini krisis ekonomi yang nyata, dan rakyatlah yang paling dulu merasakan dampaknya.
Editorial Swararakyat.com adalah ruang refleksi dan kritik konstruktif sebuah suara jernih di tengah hiruk pikuk informasi, untuk membangun Indonesia yang lebih berkeadilan, beradab, dan berpihak pada rakyat.













