Oleh Eris Risnawati
Stand-up comedy sering dianggap sekadar hiburan, tapi monolog tentang DPR yang ditempatkan “di pasar” justru menunjukkan bagaimana DPR itu kan tugasnya mendengarkan suara rakyat… tapiana humor bisa menjadi alat refleksi sosial yang cerdas. Komika membuka dengan kalimat: “ gimana caranya DPR mendengarkan suara rakyat ketika DPR dihalangi oleh tembok yang begitu tinggi?” Pernyataan ini menimbulkan tawa karena ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas, sebuah prinsip dalam teori humor incongruity. Kata-kata formal seperti dan rakyat dipadukan dengan konteks absurd, sehingga konflik semantis muncul dan efek komedi tercipta.
Adegan preman pasar yang berkata: “Kalau saya malak bapak, dosanya double” menghadirkan humor berdasarkan teori superiority, di mana audiens merasa lebih tahu tentang absurditas kekuasaan dibanding DPR atau preman. Kontras sosial ini memperkuat sindiran, sekaligus membuat penonton tertawa sambil menyadari realitas sosial-politik. Humor juga berfungsi sebagai relief, misalnya saat komika membayangkan seminar motivasi dramatis, backsound sedih, dan tiba-tiba ibu menjadi caleg. Absurditas ini memberi pelepasan ketegangan emosional, sambil menyisipkan kritik sosial terselubung.
Dari sisi linguistik, komika menggunakan beberapa strategi yang memperkuat humor. Reduplikasi kreatif dan verba metaforis seperti “Ayam kampus cabai-cabain” menghadirkan absurd visual dan humor kognitif. Peralihan register dari bahasa formal politik (DPR, caleg) ke bahasa pasar sehari-hari (duit, malak, gembel) menciptakan kedekatan dengan audiens. Antitesis semantis muncul saat preman pasar malak halal sementara DPR dianggap “malak rakyat”, menekankan humor kritis. Teknik unexpected pragmatic shift, yaitu punchline yang mengubah ekspektasi mendadak, juga diterapkan untuk efek komedi maksimal.
Selain aspek bahasa, struktur naratif juga menjadi kunci. Plot twist, dramatisasi, dan absurditas visual seperti bayangan orang tua dan bendera kuning berkibar di rumah menjadikan humor tidak sekadar kata-kata tapi pengalaman naratif. Kombinasi ini membuat audiens tertawa sambil merenung tentang absurditas birokrasi dan dinamika kekuasaan.
Monolog ini membuktikan bahwa stand-up comedy bisa lebih dari hiburan. Dengan memadukan teori humor incongruity, superiority, dan relief, serta strategi linguistik dan pragmatik yang cermat, komika mampu menghadirkan humor cerdas yang sekaligus mengedukasi. Humor linguistik menjadi medium refleksi sosial yang efektif, membuat penonton tersenyum sekaligus berpikir kritis tentang realitas politik.











