Pecahkan Rekor! China Sukses Kembangkan Kereta Maglev: Kecepatan 800 KM Per Jam

BEIJING, SWARARAKYAT.COM — China kembali menegaskan mendominasi pengembangan teknologi transportasi masa depan. Dalam pengujian terbaru, sistem kereta magnetic levitation (maglev) eksperimental milik Tirai Bambu berhasil memecahkan rekor dunia setelah melesat dari posisi diam hingga mencapai kecepatan 800 kilometer per jam hanya dalam waktu 5,3 detik.

Uji coba ekstrem tersebut dilaksanakan di lintasan eksperimental sepanjang 1 kilometer milik East Lake High-Speed Railway Laboratory, yang berlokasi di Provinsi Hubei, China. Kendaraan uji seberat 1,1 ton tersebut mampu memacu akselerasi hingga kecepatan puncak 800 km/jam pada jarak sekitar 600 meter sebelum akhirnya mengerem dan berhenti dengan presisi tinggi.

Melayang Tanpa Gesekan

Teknologi maglev bekerja dengan memanfaatkan prinsip levitasi magnetik. Bodi kereta dibuat melayang sepenuhnya di atas rel lintasan, menghilangkan gesekan mekanis rel secara total sehingga hambatan gerak berkurang drastis.

Propulsi kereta dipacu oleh rangkaian elektromagnet linier presisi tinggi yang terpasang di sepanjang lintasan. Sistem ini mengubah arus listrik secara cepat untuk menarik bagian depan kereta sekaligus mendorong bagian belakangnya secara terus-menerus. Gelombang dorongan elektromagnetik inilah yang bertindak seperti “tangan raksasa” tak kasatmata yang melontarkan kendaraan dalam waktu hitungan detik.

Baca Juga: Trump Bawa Bos Tesla dan Apple ke China: Ubah Rivalitas Menjadi Kemitraan Strategis

Hambatan Aerodinamis dan Aplikasi Masa Depan

Kecepatan 800 km/jam telah mendekati kecepatan jelajah pesawat terbang komersial. Secara teoritis, perjalanan darat dari Jakarta menuju Jayapura dapat ditempuh dalam waktu sekitar lima jam saja dengan kecepatan tersebut.

Kendati demikian, tingkat akselerasi 5,3 detik menuju 800 km/jam menghasilkan percepatan ekstrem (mendekati 4,3 G), sehingga penerapan awalnya belum difokuskan untuk angkutan penumpang umum. Para peneliti menyatakan bahwa teknologi propulsi dan pelontar elektromagnetik ini juga dirancang untuk aplikasi kedirgantaraan—seperti peluncuran satelit atau wahana antariksa tanpa roket pendorong berbahan bakar penuh—serta keperluan sektor pertahanan.

Pihak laboratorium di Hubei kini menargetkan pengembangan tahap berikutnya untuk menembus batas kecepatan 1.000 km/jam. Langkah ini akan dikombinasikan dengan riset tabung ruang hampa (vacuum tube) demi menekan hambatan udara pada kecepatan ultra-tinggi.(Red)