Ditolak Lebih dari 100 Investor, Cara Founder Canva Mencari Jalan Masuk Ini Bikin Geleng Kepala

Melanie Perkins (Dok./Red)

Swararakyat.com – Banyak orang berhenti setelah ditolak berkali-kali. Sebagian lagi mungkin memilih mengubah mimpi agar terdengar lebih masuk akal. Tapi kisah pendiri Canva justru berjalan ke arah yang berbeda: semakin sulit pintunya dibuka, semakin aneh cara yang dipilih untuk mencari jalan masuk.

Nama perempuan itu Melanie Perkins 9, Jauh sebelum dikenal sebagai pendiri perusahaan teknologi raksasa, ia hanyalah mahasiswi muda asal Australia yang punya gagasan sederhana: membuat desain menjadi mudah dan bisa dipakai siapa saja.

Hari ini ide itu terdengar biasa. Namun lebih dari satu dekade lalu, gagasan tersebut dianggap terlalu berani.

Melanie melihat satu masalah yang menurutnya nyata. Software desain saat itu terasa rumit, mahal, dan tidak ramah bagi banyak orang. Ia percaya desain seharusnya tidak hanya bisa digunakan para profesional, tetapi juga pelajar, pelaku usaha kecil, hingga orang biasa.

Namun meyakinkan investor ternyata jauh lebih sulit daripada membangun mimpi.

Saat berusaha mencari modal di Silicon Valley, Melanie dan timnya menghadapi kenyataan pahit. Ide Canva berkali-kali ditolak. Bukan hanya beberapa kali. Berbagai sumber menyebut lebih dari 100 investor mengatakan tidak pada gagasan yang dibawanya.

Bagi banyak orang, angka itu mungkin cukup untuk membuat seseorang berhenti.

Tapi Melanie tidak memilih jalan itu.

Alih-alih terus menunggu pintu ruang rapat terbuka, ia mulai mencari cara lain. Sampai kemudian ia mengetahui bahwa investor teknologi ternama Bill Tai, memiliki ketertarikan besar pada dunia kitesurfing.

Di komunitas tersebut, bukan hanya investor yang berkumpul. Banyak pendiri startup, tokoh teknologi, dan orang-orang penting Silicon Valley juga berada di lingkaran yang sama.

Masalahnya, Melanie bukan atlet kitesurfing. Bahkan ia nyaris tidak punya latar belakang di olahraga ekstrem itu.

Namun ia mengambil keputusan yang mungkin terdengar tidak masuk akal: belajar dari nol.

Ia berlatih kitesurfing, jatuh berulang kali, mengalami benturan, dan menjalani proses yang tidak mudah. Bukan karena ingin menjadi atlet atau mengejar hobi baru, tetapi karena ia memahami satu hal: akses kadang lebih penting daripada sekadar proposal bisnis.

Keputusan yang terlihat aneh itu perlahan membuka jalan.

Lewat jaringan yang dibangun, Melanie mendapat akses ke lingkungan investor yang sebelumnya sulit dijangkau. Hubungan, percakapan, dan kesempatan mulai terbuka.

Tahun 2013, Canva resmi diluncurkan.

Hari ini, Canva.com telah berkembang menjadi salah satu perusahaan teknologi paling sukses di dunia dengan valuasi bernilai miliaran dolar.

Kisah Melanie Perkins bukan sekadar cerita tentang startup besar atau pendanaan fantastis. Ada pelajaran yang terasa sederhana di baliknya: ketika pintu depan tertutup, sebagian orang memilih menyerah. Sebagian lainnya memilih mencari pintu lain bahkan jika pintu itu berada di tempat yang sama sekali tidak diduga.

Kadang keberhasilan memang bukan soal siapa yang paling cepat. Tetapi siapa yang terus mencari jalan saat jalan yang biasa tidak lagi bisa dilewati. (*)