Faktor Penyebab Rupiah Lemah, Berujung Pasar Tak Bergairah

Oleh: Biren Muhammad

Bagi sebagian orang, pergerakan angka di papan kurs valuta asing (valas) atau berita mengenai merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terkesan seperti urusan elit. Itu dianggap sebagai konsumsi para pengamat ekonomi, pelaku pasar modal, atau korporasi raksasa di Jakarta.

Namun, ekonomi sejatinya adalah sebuah roda yang saling mengunci. Apa yang terjadi di hulu ruang bursa, cepat atau lambat akan bergetar hebat di hilir—di atas meja-meja kayu para pedagang pasar tradisional.

Beberapa waktu terakhir, denyut nadi perdagangan di pasar-pasar lokal mulai terasa lambat. Pesanan komoditas yang biasanya stabil merosot tajam.

Kubis atau kol yang biasanya terserap hingga lebih dari 100 kilogram per hari, tiba-tiba mandek di angka 65 kilogram.

Penurunan volume hingga hampir separuh ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa, melainkan sebuah alarm nyata: roda perekonomian sedang berjalan pincang.

Pasar sedang kehilangan gairahnya karena daya beli masyarakat dihantam efek domino dari melemahnya rupiah.

Bagaimana mata uang yang melemah di tingkat makro bisa mencekik volume dagang sayuran di tingkat mikro? Hubungan ini memang tidak instan, tetapi jalurnya sangat logis dan beruntun.

Faktor pertama dimulai dari lonjakan biaya produksi di hulu (supply shock). Indonesia memang negara agraris, namun kedaulatan sarana produksi kita masih tersandera impor.

Ketika rupiah melemah, harga bahan baku pupuk kimia, komponen pestisida, hingga suku cadang armada logistik otomatis melambung tinggi.

Akibatnya, biaya tanam hingga biaya angkut dari lahan pertanian ke pasar induk membengkak. Petani dan distributor tidak punya pilihan selain menaikkan harga modal agar tidak gulung tikar.

Faktor kedua bergeser ke isi dompet konsumen, yaitu penyusutan nilai riil uang (income squeeze). Di tengah naiknya harga-harga barang pokok—termasuk komoditas pangan impor seperti minyak goreng, terigu, dan kedelai—pendapatan atau gaji masyarakat cenderung jalan di tempat.

Secara nominal uang mereka tetap, tetapi secara riil daya belinya merosot. Uang seratus ribu rupiah yang biasanya mampu memenuhi keranjang belanja untuk kebutuhan tiga hari, kini menyusut drastis.

Kondisi inilah yang memaksa terjadinya faktor ketiga: perilaku “ngerem” belanja secara massal. Guna menyiasati anggaran dapur yang terjepit, masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah mulai menerapkan strategi bertahan hidup.

Porsi belanja dikurangi secara ketat. Jika biasanya membeli satu kilogram sayur bervariasi, kini dipangkas menjadi setengahnya atau dialihkan ke menu substitusi yang paling murah.

Puncak dari akumulasi faktor-faktor di atas bermuara di lapak-lapak eceran. Ketika jutaan rumah tangga secara serempak memotong kuantitas belanja mereka, perputaran barang di pasar tradisional mendadak macet.

Dagangan sepi, modal tertahan pada barang yang tidak laku hingga sore. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, para pedagang eceran terpaksa mengambil langkah defensif dengan memangkas volume pesanan mereka ke tingkat distributor.

Merosotnya pesanan kubis dari 100 kilogram menjadi 65 kilogram adalah bukti empiris di lapangan. Ini adalah hilangnya serapan pasar akibat daya beli masyarakat yang telah layu.

Hukum ekonomi itu mutlak dan saling terhubung; jika ada satu titik yang macet di hulu, maka getarannya akan menghentikan laju perputaran di hilir. Lesunya pasar hari ini bukan karena pasokan barang yang langka, melainkan karena gairah belanja masyarakat telah habis terkikis oleh efek beruntun melemahnya rupiah.

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa adanya intervensi kebijakan yang berpihak pada penguatan daya beli riil di tingkat bawah, maka roda ekonomi kita akan berputar semakin berat dan melambat.