Swararakyat.com, Jakarta – Gelombang aksi massa yang berlangsung di Jakarta dan berbagai daerah pada 25–31 Agustus 2025 tidak hanya menjadi perhatian nasional, tetapi juga terkait erat dengan dinamika geopolitik dan ekonomi global.
Pendiri Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Indonesia (BEM RI) sekaligus Pengurus DPP KNPI, Abu Bakar Maulana, menekankan pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah situasi yang memanas.
“Geopolitik saat ini sedang berfluktuasi, dan kita harus waspada agar tidak terjebak dalam permainan kekuatan luar. Jaga Indonesia, ingat sila ketiga: Persatuan Indonesia,” tegas Abu Bakar di Jakarta.
Ia menilai ketegangan sosial dan politik di dalam negeri dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk melemahkan persatuan nasional.
Abu Bakar juga menyoroti posisi strategis Indonesia di panggung internasional, terutama menjelang kehadiran Presiden Prabowo Subianto pada Victory Day China ke-80.
“Kehadiran Indonesia di acara itu merupakan kesempatan penting untuk menegaskan komitmen kita terhadap perdamaian dan keadilan global. Kita harus menunjukkan bahwa Indonesia siap mengambil peran dalam diplomasi global,” ujarnya.
Lebih lanjut, Abu Bakar menegaskan pentingnya partisipasi Indonesia dalam Sidang Umum PBB yang akan digelar 23 September 2025.
“Setelah 10 tahun absen di pidato Sidang Umum PBB, ini adalah momen emas untuk menampilkan diplomasi khas Nusantara yang mengedepankan musyawarah, keadilan, dan keseimbangan,” kata Abu Bakar.
Ia menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk tetap tenang, mengedepankan musyawarah, dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah bangsa.
“Ini bukan soal kepentingan kelompok atau poros gerakan tertentu. Ini soal bangsa, tanah air, rumah kita bersama. Mari kita jaga persatuan Indonesia,” pungkasnya. (*)













