Swararakyat.com, Jakarta – Ketua Umum PartaiSosial Sejahtera Indonesia atau PASINDO, Ir. Amin Mujito, SH, CLA, menegaskan sikap politik partainya melalui Gerakan: Perlawanan tanpa takut, kemenangan rakyat marjinal tanpa anarki.

PASINDO menyatakan dukungan penuh terhadap perjuangan rakyat untuk merebut kembali kedaulatan negara di tangan rakyat. “Kami berdiri tegak dengan prinsip hukum pro justitia sine timore, keadilan tanpa takut kepada siapa pun. Kami bukan hanya berbicara, kami bertindak. Sudah terlalu lama rakyat dibungkam, dipinggirkan, dan dibohongi oleh mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Kini saatnya kebenaran dan keadilan kembali berkuasa. Bersama rakyat marjinal, kami akan menghancurkan sistem yang busuk ini,” tegas Amin Mujito.
Meski sebagai partai baru yang sedang tumbuh, PASINDO menegaskan dirinya telah menggelorakan perlawanan terhadap ketidakadilan dan menjadi Rumah Besar Rakyat Marjinal tanpa elitisme maupun oligarki. “Kami tidak takut untuk berbicara keras, menuntut keadilan yang hakiki, bahkan mempertaruhkan segala sesuatu demi rakyat yang selama ini terus tertindas,” tambahnya.
PASINDO juga menolak keras berbagai kebijakan yang dinilai menindas rakyat, antara lain:
1. Kenaikan gaji DPR hingga Rp100 juta di tengah penderitaan rakyat.
2. Kenaikan pajak hingga 250% yang dianggap sebagai kejahatan ekonomi.
3. Korupsi yang merajalela tanpa hukuman setimpal.
4. Dominasi oligarki atas negara dan sumber daya.
5. Perampasan tanah rakyat yang harus dihentikan.
6. Rendahnya penghargaan terhadap guru sebagai pahlawan bangsa.
7. Arogansi pejabat pemerintah yang hidup mewah di tengah rakyat lapar.
8. Pemblokiran rekening dormant oleh PPATK yang merugikan rakyat kecil.
PASINDO menegaskan perjuangannya tetap konstitusional, menolak kekerasan, dan berorientasi pada reformasi sistem sesuai UUD 1945. Mereka juga mengingatkan potensi aksi rakyat ditunggangi kelompok radikal atau provokator yang hendak menciptakan anarki.
“Kami adalah suara rakyat marjinal. Kami akan terus melawan dengan cara yang bermartabat, konstitusional, dan tidak pernah berhenti sampai keadilan sejati tercapai,” pungkas Amin Mujito. (*)













