Merasa Harga Kios Mahal, Ketua HPF Pasar Pramuka Sebut Pedagang Tak Mampu Bayar

Ketua Himpunan Pedagang Farmasi (HPF) Pasar Pramuka, Yudha saat mendampingi para pedagang

JAKARTA (swararakyat.com) – Para pedagang di pasar obat Pramuka merasa harga kios masih mahal membuat mereka tak sanggup bayar. Buntutnya segel ditempel di beberapa kios pedagang yang belum bayar.

Hal itu disampaikan Yudha Hardinata, Ketua Himpunan Pedagang Farmasi (HPF) Pasar Pramuka, Rabu (19/11/2025) di Jakarta.

“Masalah yang dihadapi para pedagang sekarang adalah harga kios masih terlalu tinggi diberikan pihak Perumda kepada para pedagang,” kata Yudha.

Dimana menurut Yudha, informasi yang didapatkan harga satu kios sekitar Rp 390 juta selama 20 tahun pemakaian.

“Tapi para pedagang merasa harga itu masih kejauhan, masih timpang, masih ga sanggup pedagang itu harga segitu,” terang Yudha.

Untuk itulah para pedagang masih mencoba negosiasi dengan pihak Perumda Pasar Jaya supaya mendapatkan titik tengah harga yang dimampui bayar oleh seluruh pedagang.

Terbaru, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Perumda Pasar Jaya, namun belum ditemukan kesepakatan harga.

“Sampai saat ini belum menemukan titik tersebut dan kita masih melakukan banyak upaya hingga nantinya menemukan hasil yang terbaik untuk kita (pedagang) semua,” ujarnya.

Terkait penyegelan, Yudha mengatakan, beberapa toko disegel karena belum bayar DP. Sedangkan DP tersebut, menurut Yudha masih menjadi pertanyaan mereka hingga saat ini.

“Kita membayar DP itu sebagai apa gitu loh. Tanda jadi kah atau kontrak kerja sama kah, itu yang belum tersampaikan sama kita. Sementara harga kesepakatan belum ada kecocokan antara pedagang dengan Perumda Pasar Jaya,” katanya.

Sementara itu, Surya Panjaitan, yang merupakan suami pemilik salah satu kios menyampaikan keberatan atas penyegelan kios istrinya.

“Kemarin pengurus ke DPRD, dan statement DPRD mengatakan jangan ada dulu penyegelan, nanti dibicarakan hari Jumat.

“Hari ini kios istri saya disegel karena belum bayar DP, padahal banyak kios yang belum disegel karena belum bayar DP. Wajar dong saya bilang diskriminatif,” kata Surya.

Dalam pertemuan hari itu dengan pihak Perumda Pasar Jaya, menurut Surya belum ditemukan solusi untuk mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapinya.

“Solusinya tadi hampir tidak ada. Hanya marah-marah, padahal kita mau sampaikan aspirasi. Saya sebenarnya positif mau sampaikan kepada mereka (PD Pasar Jaya), tapi apa-apa belum mendengar sudah emosi yang dipasang,” ujarnya.

Walaupun masih buntu, ia mengaku tetap bayar.

“Kita tetap bayar,” tambahnya. (s)