Oleh: Ardi Piliang
Negeri Liliput konon merupakan negeri yang besar dan kaya akan sumber daya alam melimpah. Negeri ini subur, makmur, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo, demikian bangsa seberang menggambarkannya. Namun, sayang seribu sayang, gambaran itu tidak sejalan dengan kenyataan hidup masyarakatnya. Bahkan, negeri ini pernah dicap sebagai bangsa kelas tiga, bangsa budak, dan sebutan-sebutan lain yang merendahkan.
Keadaan itu diperparah oleh kolonialisasi bangsa-bangsa asing yang menganeksasi Negeri Liliput dalam waktu yang sangat panjang. Akibatnya, terjadilah degradasi moral, pikiran, watak, dan jiwa sebagian besar masyarakatnya. Konon, jauh sebelum hadirnya peradaban modern, nenek moyang bangsa Liliput sesungguhnya adalah orang-orang cerdas, berwatak pejuang, pemberani, dan berjiwa satria, bermental baja. Mereka bukan bangsa pengecut, bukan pula pengkhianat, budak sahaya, atau sebutan lain yang berkonotasi buruk.
Menjadi jahat atau tidak bukan semata-mata persoalan biologis, melainkan juga persoalan perspektif dan konteks budaya sosial masyarakat. Dalam lingkup inilah barangkali kolonialisasi memengaruhi masyarakat Liliput. Bukan hanya tipologi masyarakatnya yang mengalami dehumanisasi, melainkan juga kultur, budaya, dan sejarahnya dikaburkan, bahkan dihilangkan, lalu diganti dengan narasi versi negara penjajah. Sebab, kemerdekaan Negeri Liliput sesungguhnya belum sepenuhnya merdeka 100 persen.
Tan Malaka dimasa silam menyerukan dalam buku Merdeka 100%.“Harus Aku katakan, bahwa kita belum merdeka, karna merdeka haruslah 100 persen!”. (adalah seruan revolusioner yang menuntut kedaulatan penuh, bebas dari penjajahan fisik, ekonomi, dan politik asing.)
Pemikiran ini menekankan bahwa kemerdekaan sejati bukan sekadar proklamasi, melainkan kebebasan total dari kebodohan dan ketergantungan asing.
Kemerdekaan itu tidak murni direbut melalui perang, melainkan juga melalui diplomasi yang sejalan dengan politik etis yang dijalankan negara penjajah terhadap negeri jajahannya. Karena itu, hingga hari ini, nuansa kolonial masih terasa kuat. Warisan-warisan buruk yang ditinggalkan pun masih melekat dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Liliput.
Pada masa kejayaannya, Negeri Bentala bagaikan seorang gadis cantik dengan tubuh indah yang mempesona. Ia memancarkan kehangatan dan kesejukan bagi siapa pun yang memandang, sekaligus menghadirkan hasrat untuk memilikinya. Begitulah kira-kira perumpamaan Negeri Liliput di mata bangsa lain pada masa lampau, hingga bangsa-bangsa asing datang silih berganti dari berbagai negeri jauh di belahan bumi.
Banyak di antara mereka datang bukan untuk bersahabat, melainkan untuk menaklukkan dan menguasai segala yang terkandung di perut bumi Negeri Liliput. Melalui kolonialisme dan imperialisme, mereka berupaya menguasai seluruh Negeri Bentala. Mereka inilah manusia-manusia serakah dan bengis yang kemudian disebut sebagai bangsa penjajah, dengan misi utama 3G: Gold, Glory, dan Gospel, yakni kekayaan, kejayaan, dan penyebaran agama. Dalam catatan sejarah, ada lima bangsa Eropa yang menjalankan misi itu di Negeri Lileput, yaitu Portugis, Spanyol, Inggris, Prancis, dan Belanda.
Negeri yang dulu bernama Bentala itu, yang pernah mengalami masa emas kejayaannya, lambat laun punah. Peradaban dan kejayaan masa lalu kini tinggal menjadi cerita, bahkan seperti dongeng sebelum tidur. Semuanya tergerus oleh ombak peradaban baru yang dibentuk oleh bangsa penjajah, hingga negeri itu berubah menjadi bangsa kecil yang cenderung stagnan dalam hal kemajuan peradaban, kemakmuran, dan kesejahteraan.
Bukan hanya kecil dalam laju perkembangan peradabannya, melainkan juga sempit dalam cara berpikir para pemangku kepentingannya. Arah pikir mereka kian ke mari, tak lebih dari sebatas urusan perut bila diukur dari jauhnya dari jangkauan isi kepala masyarakat kebanyakan.
“Hari ini aku masih melihat kemerdekaan hanyalah milik kaum elit, yang mendadak bahagia menjadi borjuis, suka-cita menjadi abtenaar.” (Tan Malaka)
Hal itu merupakan sisa-sisa nyata warisan kolonial yang masih terasa hingga hari ini. Mental budak, kerakusan, dan sikap lupa daratan seolah terus hidup. Mereka yang semula rakyat jelata, ketika memegang jabatan, berubah bak raja dan melupakan tujuan utama perjuangan. Akhirnya, perjuangan hanya tinggal jargon-jargon untuk memasarkan diri kepada khalayak demi menambah nilai jual.
Potret Kini Negeri Liliput
Kini, hampir semua hal telah bertransformasi ke ranah digital dalam kehidupan masyarakat dunia. Ini sekaligus menjadi penanda bahwa peradaban modern berkembang pesat. Negara-negara di dunia pun berlomba-lomba menjadikan dirinya maju dan digdaya.
Namun, keadaan Negeri Liliput berbeda. Saat negara dan bangsa lain berpikir untuk menjadi negara hebat dan berdaulat, menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, Negeri Liliput justru masih sibuk mengurus perkara remeh-temeh. Cara berpikirnya masih lokal, belum mendunia. Saling sikut, ribut berebut mengais isi negeri, korupsi, kolusi, manipulasi, dan hal-hal receh masih menjadi pembahasan sehari-hari. Kebijakan, Keadilan dan hukum pun masih terasa dikangkangi dan dikuasi oleh oligarki dan kapitalis.
Jika masyarakat Liliput sadar, cerdas, dan jujur melihat kondisi ini dari perspektif kebangsaan, sesungguhnya situasinya tidak jauh berbeda dengan puluhan atau ratusan tahun lalu, ketika kolonialisme dan kapitalisme mencengkeram negeri. Yang membedakan hanya bentuk, warna, dan polanya saja.













