Opini  

Rupiah Bukan Sekedar Narasi Politik

Azral Hardy

Coretan: Azral Hardy

Terus terang, saya senang ketika mendengar ada anggota DPR yang melakukan fungsi pengawasan dengan baik terhadap kebijakan pemerintahan.

Tetapi saya juga prihatin jika ada anggota DPR dengan mudah meminta Gubernur Bank Indonesia mundur hanya karena rupiah sedang melemah.
Kritik itu boleh. Bahkan harus. Tapi kritik tanpa pemahaman justru menunjukkan bahwa kita sedang menghadapi masalah yang lebih besar: terlalu mudah bicara, terlalu sedikit memahami.

Ini soal ekonomi negara. Soal nasib rakyat. Soal stabilitas harga, investasi, lapangan kerja, dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia. Jadi jangan disederhanakan seolah pelemahan rupiah hanya karena satu orang atau satu lembaga gagal bekerja.

Kalau bicara rupiah, mari bicara dengan jernih.

Apakah benar Bank Indonesia diam? Tidak.

Bank Indonesia sudah bekerja. Mereka melakukan intervensi di pasar untuk menjaga rupiah agar tidak jatuh terlalu dalam. Mereka menjaga likuiditas, mengatur suku bunga, memperkuat transaksi mata uang lokal, bahkan membatasi tekanan dolar di dalam negeri dengan berbagai instrumen kebijakan.

Apakah hasilnya langsung sempurna? Tentu tidak.

Karena ekonomi bukan sulap. Kebijakan moneter bukan tombol yang ditekan lalu besok pagi semuanya langsung baik-baik saja. Semua ada proses, perhitungan, dan risiko yang harus dijaga.

Yang lebih penting, masyarakat harus tahu bahwa Bank Indonesia adalah lembaga independen.

Artinya apa?

Artinya BI tidak boleh bekerja berdasarkan tekanan politik. Tidak boleh diganggu oleh kepentingan sesaat. Karena kalau bank sentral mulai ditarik ke panggung politik, yang rusak bukan hanya lembaganya tetapi kepercayaan pasar terhadap Indonesia.

Kita belajar dari sejarah. Negara yang bank sentralnya diintervensi politik biasanya berakhir dengan inflasi tinggi, mata uang makin rapuh, dan rakyat kecil yang paling menderita.

Jadi jangan sedikit-sedikit minta orang mundur.

Kalau rupiah melemah, lihat persoalannya secara utuh. Ekspor kita bagaimana? Impor meningkat atau tidak? Investasi masuk atau justru keluar? Kondisi fiskal negara sehat atau tidak? Dunia sedang stabil atau penuh ketidakpastian?

Karena rupiah tidak hidup sendirian.

Nilai tukar dipengaruhi banyak faktor. Ketika ekonomi global sedang bergejolak, dolar menguat, investor menahan uangnya, tentu tekanan terhadap rupiah juga meningkat. Dalam kondisi seperti ini, BI bekerja menjaga agar gejolaknya tidak semakin liar. Tapi BI tidak bisa bekerja sendiri.

Pemerintah harus memperkuat ekonomi. DPR juga harus menjalankan fungsi pengawasan dengan baik. Semua pihak harus ikut bertanggung jawab.

Karena itu, janganlah jadi politisi yang asal bicara demi sorotan kamera. Jangan membuat pernyataan yang justru memperkeruh suasana. Karena ucapan pejabat publik itu punya dampak. Investor mendengar. Pasar memperhatikan. Masyarakat ikut cemas.

Rakyat butuh pemimpin yang tenang, cerdas, dan memahami apa yang sedang dibicarakan.
Karena menjaga rupiah bukan kerja satu orang. Ini kerja bangsa. (*)