Dulu Satu Kubu, Kini Bertempur: Siapa Menang antara Gus Ipul VS Nusron Wahid

Oleh: Dadan K. Ramdan

Panggung Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, baru saja usai. Di balik suksesnya penetapan duet baru K.H. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan K.H. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031, publik disuguhkan sebuah drama politik organisasi yang luar biasa epik.

Drama paling memikat bukanlah tentang bursa nama calon itu sendiri, melainkan pecahnya kongsi dua “Pendekar Muktamar” yang dahulu dikenal sangat legendaris: Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Nusron Wahid.

Romantisme Lampung yang Kandas.

Bagi mereka yang merawat ingatan kolektif sejarah NU, nama Gus Ipul dan Nusron Wahid adalah dwitunggal yang tak terpisahkan pada Muktamar ke-34 di Lampung tahun 2021 lalu. Saat itu, keduanya berdiri di satu barisan yang sama, menjadi arsitek utama yang meruntuhkan status petahana K.H. Said Aqil Siroj dan melambungkan K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) ke kursi nomor satu PBNU.

Kala itu, Gus Yahya bahkan secara terbuka menjuluki mereka berdua sebagai “Pendekar Muktamar” karena kelihaiannya mengonsolidasikan ratusan suara cabang. Namun, pepatah politik klasik kembali menemukan kebenarannya di Tambakberas: tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang sama.

Ketika hubungan Gus Ipul dan Gus Yahya meretak di tengah jalan, peta kompas politik internal PBNU berputar 180 derajat. Menjelang Muktamar 2026, romansa Lampung resmi kandas. Gus Ipul memilih jalan baru demi mengusung agenda kembalinya NU ke khittah kultural pesantren lewat figur Gus Kikin, sementara Nusron Wahid bergerak dengan kalkulasi berbeda yang mengusung narasi restorasi struktural total.

Benturan Strategi di Gelanggang Tambakberas.

Pertempuran kedua pendekar ini terjadi secara terbuka pada Sidang Pleno III yang membahas tata tertib pemilihan. Di sinilah kelihaian adu strategi keduanya diuji secara nyata.

Nusron Wahid, dengan basis pendukung akar rumput yang kuat, mencoba mempertahankan sistem pemilihan langsung one man one vote. Skenario ini sangat logis bagi politisi kawakan seperti Nusron; jika pemilihan dilakukan langsung di bilik suara, kekuatan gerbongnya untuk menggalang suara PCNU daerah akan sulit dibendung. Terbukti, Nusron sempat mengantongi 207 suara pada tahap penjaringan awal.

Namun, Gus Ipul yang bertindak sebagai Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Ketua Panitia Pelaksana memiliki “senjata pamungkas”. Melalui lobi-lobi terstruktur di Komisi Organisasi, gerbong Gus Ipul berhasil mematahkan strategi Nusron. Mereka sukses menggolkan perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum dari sistem langsung menjadi sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) lewat kemenangan mutlak 401 suara melawan 150 suara.

Perubahan regulasi ini menjadi pukulan telak. Ketika mandat pemilihan digeser penuh ke meja musyawarah sembilan kiai sepuh, peta kekuatan suara eceran yang sudah dibangun oleh Nusron Wahid seketika runtuh.

Aturan tambahan mengenai larangan rangkap jabatan politik dan masa iddah politik semakin mengunci ruang gerak Nusron. Karena Nusron saat ini mengemban amanah sebagai menteri aktif di kabinet pemerintahan, ia secara administratif dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk melangkah lebih jauh.

Siapa Menang?.

Jika parameternya adalah hasil akhir muktamar, maka Gus Ipul keluar sebagai pemenang mutlak dalam pertempuran di Tambakberas. Skenario politik yang dirancang Gus Ipul berjalan mulus tanpa celah: mekanisme AHWA gol, kandidat yang didukungnya (Gus Kikin) melenggang menjadi Ketua Umum, dan stabilitas organisasi tetap terjaga di bawah payung keteduhan kiai sepuh.

Namun, politik NU selalu memiliki cara unik untuk mengakhiri sebuah rivalitas. Pertempuran sengit ini tidak berakhir dengan dendam yang membara. Pada prosesi penutupan muktamar yang dihadiri langsung oleh Presiden, baik Gus Ipul maupun Nusron Wahid tampak duduk bersama mendampingi kepala negara.

Ini adalah kemenangan sejati bagi NU. Di ruang sidang mereka boleh bertempur habis-habisan bagai pendekar yang saling menguji kesaktian ilmu politik, namun begitu bedug penutupan ditabuh, semua melebur kembali dalam satu barisan idkhalus surur (saling menggembirakan). Gus Ipul memenangkan pertarungan struktural, namun Nusron Wahid tetap menunjukkan kelasnya sebagai pendekar yang tahu kapan harus menghormati keputusan forum tertinggi para kiai. (*)