Rupiah Mendekati Rp18.000, Ekonomi Rakyat Bakal Tertekan?

Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS, mendekati level psikologis Rp18.000. Pelemahan rupiah menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi harga barang, biaya produksi, dan daya beli masyarakat. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, SWARARAKYAT.COM – Pergerakan rupiah kembali menjadi perhatian di tengah ketidakpastian ekonomi global. Nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp17.700-an per dolar Amerika Serikat, atau hanya berjarak sekitar Rp300 dari level psikologis Rp18.000.

Data Bank Indonesia menunjukkan JISDOR pada 24 Agustus 2026 berada di level Rp17.703 per dolar AS. Posisi tersebut menggambarkan masih kuatnya tekanan terhadap mata uang Garuda, meski pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir tidak selalu bergerak satu arah.

Bagi masyarakat, persoalannya bukan semata-mata apakah rupiah menyentuh Rp18.000 atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah sejauh mana pelemahan nilai tukar tersebut akhirnya masuk ke harga barang dan menggerus daya beli.

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya barang dan bahan baku impor. Jika tekanan tersebut diteruskan pelaku usaha kepada konsumen, harga sejumlah produk berpotensi ikut meningkat. Dampaknya dapat terasa pada barang konsumsi, bahan baku industri, pangan tertentu, hingga komponen energi yang memiliki keterkaitan dengan impor.

Di sisi lain, Bank Indonesia masih mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Keputusan tersebut diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar, menjaga sasaran inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah tingginya ketidakpastian global.

Dengan demikian, tantangan ekonomi saat ini bukan hanya menjaga rupiah agar tidak menembus Rp18.000 per dolar AS, tetapi memastikan gejolak nilai tukar tidak berubah menjadi beban baru bagi masyarakat.

Sebab, ketika biaya produksi naik dan harga barang ikut terdorong, pertanyaan akhirnya kembali kepada ekonomi rakyat: siapa yang paling menanggung bebannya? (ESH)