Opini  

Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf: Adu Kuat Dua Pendekar Muktamar

Penulis: Biren Muhammad

Ada ironi menarik di Muktamar ke-35 NU di Jombang. Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)—dua tokoh yang sukses membawa KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) ke pucuk pimpinan di Muktamar Lampung 2021—kini justru berada di seberang barisan.

Di Lampung, keduanya dilabeli “pendekar muktamar” oleh Gus Yahya karena piawai menggalang dukungan. Namun, konfigurasi kekuasaan telah berubah:

Gus Ipul (Mensos & Sekjen PBNU) menjabat Ketua OC Muktamar sekaligus king maker yang beralih arus usai manuver politiknya gagal akhir tahun lalu. Ia ngotot melengserkan Gus Yahya, namun tetap ingin mempertahankan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam.

•.Nusron Wahid (Menteri ATR/BPN) bermanuver lebih jauh. Berbeda dengan Gus Ipul, Nusron menginginkan perombakan total di jajaran pimpinan PBNU dengan mendorong figur-figur baru lewat mekanisme AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi).

Cak Imin ikut memantau dari kejauhan sambil melemparkan ancaman kepada Nusron jika mekanisme AHWA sengaja dipolitisasi.

Di sisi lain, Gus Yahya menyikapi manuver mantan kawan sejawatnya ini dengan tenang. “Tanggung jawab masing-masing, hisab masing-masing,” cetusnya.

Perubahan peta politik ini membuktikan satu hal: dalam politik, jasa punya umur dan loyalitas ada batasnya. Pertarungan di Jombang bukan sekadar drama retaknya pertemanan, melainkan perebutan kemudi dan arah NU di abad keduanya.

Siapa yang bakal memegang kendali—apakah Gus Yahya bertahan, atau muncul nama baru seperti Gus Kikin—semuanya bergantung pada keputusan AHWA siang ini.

Catatan: Penulis hanya menganalisis berbasis berita yang telah dipublikasikan dari berbagai sumber media