Meneliti, Simpati, dan Empati: Membangun Manusia Indonesia

Yaya Sunaryo (Pengamat pendidikan)

Oleh: Yaya Sunaryo (Pengamat pendidikan)

Disclaimer: Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili sikap redaksi Swararakyat.com

“Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.”

Ungkapan Buya Hamka tersebut terasa semakin relevan dengan kehidupan hari ini. Di tengah kemudahan teknologi, manusia dapat memperoleh informasi hanya dengan membuka telepon genggam, mengakses mesin pencari, atau membaca berbagai laman di internet. Pengetahuan seolah berada dalam genggaman dan dapat diperoleh hanya dengan beberapa kali sentuhan. Namun, kemudahan mendapatkan informasi tidak selalu berarti kemudahan dalam memahami, mengolah, dan menggunakan pengetahuan secara bijaksana.

Di sinilah pendidikan menjadi penting. Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan informasi dari guru kepada peserta didik, melainkan proses membentuk manusia yang mampu berpikir, memahami persoalan, menemukan jawaban, dan mengambil keputusan. Sejak Indonesia merdeka pada 1945, pendidikan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun bangsa dan melahirkan generasi yang berkualitas. Perjalanan pendidikan Indonesia sendiri tidak pernah terlepas dari dinamika sejarah, sosial, ekonomi, dan politik yang terus membentuk wajah pendidikan hingga hari ini.

Namun, perjalanan tersebut masih menghadapi berbagai persoalan. Salah satunya adalah ketidaksetaraan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Sekolah di perkotaan pada umumnya memiliki akses yang lebih baik terhadap fasilitas, teknologi, dan tenaga pendidik, sementara sebagian sekolah di daerah masih menghadapi keterbatasan. Kesenjangan tersebut pada akhirnya tidak hanya menyangkut fasilitas pendidikan, tetapi juga menyangkut kesempatan anak-anak Indonesia untuk berkembang secara optimal.

Persoalan pendidikan itulah yang kembali menjadi bahan pembahasan dalam Kelas Kejeniusan Pemikiran Ekonomi Politik Pancasila pada sesi ketiga. Pada pertemuan ini, peserta membahas perbandingan pemikiran ekonomi politik Mohammad Hatta, Dawam Rahardjo, dan Ichsanuddin Noorsy. Perbandingan tersebut penting bukan hanya untuk melihat perbedaan gagasan ketiga pemikir, tetapi juga untuk memahami latar belakang pemikiran atau background assumption yang membentuk gagasan ekonomi politik masing-masing.

Dalam sesi yang diampu Ichsanuddin Noorsy, pembahasan kemudian berkembang pada persoalan pendidikan. Noorsy memperkenalkan sebuah konsep yang pernah dipaparkannya dalam forum Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia, yaitu “meneliti, simpati, dan empati”. Ketiga konsep tersebut tidak ditempatkan sebagai bagian yang berdiri sendiri, melainkan sebagai rangkaian yang saling berhubungan dalam membentuk cara manusia belajar dan memahami kehidupan.

Meneliti merupakan upaya sistematis untuk memahami suatu persoalan dengan mencari jawaban melalui proses yang terarah dan ilmiah. Penelitian mengajarkan manusia untuk tidak menerima sesuatu begitu saja, melainkan memeriksa, mempertanyakan, menguji, dan mencari dasar dari setiap pengetahuan. Dalam konteks pendidikan, kemampuan meneliti menjadi penting agar peserta didik tidak sekadar menjadi penerima informasi, tetapi mampu membangun pengetahuan melalui proses berpikirnya sendiri.

Namun, pengetahuan saja tidak cukup. Manusia juga membutuhkan simpati, yaitu kemampuan untuk memiliki kepedulian terhadap keadaan orang lain. Dari simpati, seseorang mulai menyadari bahwa persoalan yang dipelajarinya bukan hanya objek yang harus dianalisis, melainkan juga memiliki dimensi manusiawi yang perlu dipahami. Pengetahuan kemudian tidak berhenti sebagai kumpulan data, tetapi mulai memiliki hubungan dengan kehidupan sosial.

Pada tahap yang lebih dalam terdapat empati. Empati merupakan kemampuan memahami atau merasakan pengalaman orang lain dengan berusaha melihat persoalan dari sudut pandang mereka. Dengan empati, seseorang tidak hanya mengetahui bahwa orang lain sedang menghadapi persoalan, tetapi berusaha memahami bagaimana persoalan tersebut dirasakan dan dialami oleh orang tersebut.

Karena itu, meneliti, simpati, dan empati dapat dipahami sebagai proses yang saling melengkapi. Penelitian memberikan dasar pengetahuan, simpati menghadirkan kepedulian, sedangkan empati membantu manusia memahami pengalaman orang lain secara lebih mendalam. Pendidikan yang hanya menghasilkan manusia yang pandai tanpa kepedulian dapat kehilangan dimensi kemanusiaannya, sementara kepedulian tanpa pengetahuan juga dapat membuat seseorang kesulitan menemukan solusi yang tepat.

Konsep tersebut menjadi penting ketika kita berbicara tentang masa depan pendidikan Indonesia. Kemajuan teknologi membuat informasi semakin mudah diperoleh, tetapi tantangan pendidikan justru semakin kompleks. Generasi muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengakses informasi, tetapi juga harus mampu memeriksa kebenarannya, memahami konteksnya, dan melihat dampaknya terhadap kehidupan manusia.

Dalam konteks inilah pendidikan perlu kembali ditempatkan sebagai proses membangun manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan tidak semestinya hanya mengejar nilai, ijazah, atau keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang berpengetahuan, berkarakter, kreatif, mampu berpikir kritis, dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan sosialnya.

Pemikiran tersebut membawa kita pada persoalan yang lebih luas mengenai hubungan pendidikan dan pembangunan bangsa. Bangsa yang besar membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter, memiliki kemampuan menciptakan sesuatu sekaligus kepedulian terhadap sesama. Pendidikan menjadi salah satu jalan untuk membangun manusia semacam itu, sementara kekuatan ekonomi diperlukan agar proses pendidikan dapat berlangsung secara adil dan memberikan kesempatan yang luas bagi seluruh masyarakat.

Karena itu, membangun Indonesia tidak cukup hanya dengan memperbaiki sekolah, menyediakan teknologi, atau memperluas akses informasi. Kita juga perlu membangun cara berpikir manusia Indonesia. Kita membutuhkan generasi yang tidak malas berpikir hanya karena jawaban tersedia di mesin pencari, tidak mudah percaya hanya karena sebuah informasi viral, dan tidak kehilangan rasa kemanusiaan di tengah derasnya arus teknologi.

Pendidikan adalah perjalanan untuk menemukan pengetahuan sekaligus menemukan manusia di balik pengetahuan itu sendiri. Meneliti mengajarkan kita mencari kebenaran, simpati mengajarkan kita peduli terhadap kehidupan, dan empati mengajarkan kita memahami manusia dari tempat mereka berdiri.

Inilah salah satu pekerjaan besar pendidikan Indonesia, yaitu melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas menggunakan pikirannya, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuannya untuk kehidupan yang lebih baik.

Saya ingin menutup artikel ini dengan sebuah puisi:

Di antara lembar-lembar rumus dan teori, ada jemari lembut yang menenun mimpi.

Ia tak hanya meraba dinginnya data dan hipotesis, tapi menaruh rasa pada tiap misteri yang ia selesaikan.

Bagi dunia, ilmu adalah deret kurva dan hukum alam, namun baginya, ilmu adalah puisi tentang kebenaran.

Setiap aksara yang ia baca, setiap misteri yang ia buka, adalah caranya mencintai dunia dengan kepala yang tenang dan hati yang senantiasa terbuka.

Di matanya, cinta tidak membutakan, ia menerangi seperti matematika merapikan ketidakpastian.

Cinta dan ilmu menyatu dalam dirinya: ketelitian seorang peneliti, dan kehangatan seorang jiwa yang selalu jatuh cinta pada pengetahuan.(*)