Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo: 566 Korban, 478 Sudah Pulang, 88 Masih Dirawat

Sejumlah pasien mendapat penanganan medis setelah mengalami dugaan keracunan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo, Jawa Timur. Hingga Kamis (3/9/2026), tercatat 566 korban, dengan 478 orang telah diperbolehkan pulang dan 88 lainnya masih menjalani perawatan. (Foto: Istimewa)

SIDOARJO, SWARARAKYAT.COM — Jumlah korban dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mencapai 566 orang.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat, dari total tersebut sebanyak 88 orang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit. Sementara 478 korban lainnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka membaik.

Kasus tersebut terjadi setelah para penerima MBG mengonsumsi makanan yang diduga berasal dari SPPG Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, pada Selasa (1/9/2026).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan jumlah korban bertambah 35 orang dari data sebelumnya yang mencapai 531 orang.

Mayoritas korban mengalami keluhan berupa mual, muntah dan pusing. Para pasien yang masih menjalani rawat inap dilaporkan dalam kondisi stabil dan belum membutuhkan perawatan khusus.

Kasus ini tidak hanya terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Keluhan serupa juga dilaporkan dari penerima MBG di sejumlah lembaga pendidikan lainnya di wilayah Tanggulangin yang menerima makanan dari SPPG yang sama.

Dinas Kesehatan Sidoarjo masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab munculnya keluhan kesehatan secara massal tersebut. Sejumlah sampel, termasuk bahan makanan dan muntahan pasien, telah dikumpulkan untuk pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan juga akan mencakup seluruh proses pengelolaan makanan, mulai dari penerimaan bahan, pengolahan, penyimpanan, distribusi hingga makanan dikonsumsi penerima manfaat.

Hingga pembaruan terakhir, belum ada laporan korban meninggal dunia dalam kasus dugaan keracunan MBG tersebut. Pemerintah daerah masih melakukan pemantauan terhadap korban yang menjalani perawatan serta menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian. (*)