Daerah  

Pemuda Tjokronesia dan ICMI Pasar Minggu Soroti Ancaman Karhutla

(ICMI) Organisasi Satuan Pasar Minggu menggelar webinar bertema “Peran Konkret Generasi Muda dalam Melindungi Hutan Indonesia”. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, SWARARAKYAT.COM – Komunitas Pemuda Tjokronesia bersama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Satuan Pasar Minggu menggelar webinar bertema “Peran Konkret Generasi Muda dalam Melindungi Hutan Indonesia”, Sabtu (31/10/2026). Diskusi yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut diikuti sekitar 40 peserta.

Webinar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda sekaligus ulang tahun Tjokronesia itu menghadirkan Feby Nur Evitasari dari Global Youth Biodiversity Network (GYBN) Indonesia dan Uli Arta Siagian, Koordinator Kampanye Eksekutif Nasional WALHI.

Ketua Tjokronesia, Adhil Ramadhan, dalam sambutannya mengajak generasi muda tidak tinggal diam menghadapi kerusakan hutan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang.

Menurutnya, kepedulian pemuda terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui keberanian menyuarakan persoalan dan tindakan nyata menjaga kelestarian alam.

Feby Nur Evitasari menjelaskan, karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan, Sumatera, dan Papua, bukan sekadar bencana alam musiman, melainkan persoalan sistemik yang berkaitan dengan tata kelola lahan.

Ia menyoroti pengeringan lahan gambut, ekspansi perkebunan skala besar, serta lemahnya pengawasan sebagai faktor yang memperparah kebakaran hutan. Kondisi tersebut juga berdampak pada hilangnya habitat satwa liar, kerusakan ekosistem, kesehatan, dan kehidupan masyarakat.

Sementara itu, Uli Arta Siagian menilai lemahnya tata kelola dan penegakan hukum menjadi persoalan mendasar dalam penanganan karhutla.

Menurutnya, pemadaman api saja tidak cukup tanpa pembenahan sistem yang menjadi penyebab kebakaran. Ia juga menyoroti eksploitasi sumber daya alam atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Uli mendorong generasi muda mengambil peran melalui lima langkah konkret, yakni memeriksa izin konsesi dan titik panas, melaporkan pelanggaran lingkungan, mengawasi aliran pendanaan perusahaan bermasalah, membangun gerakan bersama di kampus dan desa, serta melindungi masyarakat yang terdampak.

Ia juga menekankan pentingnya transparansi izin konsesi, penghentian perusakan lahan gambut, penegakan hukum yang tegas, dan perlindungan kesehatan masyarakat.

Menutup diskusi, Ketua ICMI Organisasi Satuan Pasar Minggu, Thoriq Haitsam, berharap webinar tersebut dapat meningkatkan pengetahuan sekaligus kepedulian generasi muda terhadap persoalan lingkungan.

Ia mengingatkan bahwa karhutla tidak hanya mengancam kelestarian hutan dan satwa liar, tetapi juga kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang rentan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Thoriq mengajak pemerintah lebih tegas dalam menangani kerusakan lingkungan dan tidak berhenti pada pernyataan semata. Ia juga mendorong masyarakat memulai aksi pelestarian lingkungan melalui penanaman kembali pohon atau reboisasi dari lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Webinar ini menjadi pengingat bahwa perlindungan hutan membutuhkan keterlibatan semua pihak, terutama generasi muda, agar kelestarian alam tetap terjaga bagi generasi mendatang. (*)