Penulis: Ardi Piliang
“Yang terburuk dari adegan-adegan di panggung itu adalah orang menjadi begitu terbiasa dengan kebohongan sehingga mereka terbiasa melontarkan kekaguman dan bertepuk tangan.” — Multatuli
Ada masa ketika panggung kekuasaan tidak lagi membutuhkan kebenaran untuk bertahan hidup. Ia hanya perlu penonton yang pelan-pelan akrab dengan dusta, lalu mengira kepalsuan sebagai sesuatu yang lumrah . Dalam keadaan seperti itu, kebohongan tidak lagi mengejutkan, sandiwara tidak lagi dipersoalkan, dan tepuk tangan diberikan bukan karena kagum, melainkan karena kebiasaan, ketakutan, atau kelengahan yang dipelihara terlalu lama.
Multatuli mengingatkan bahwa yang paling berbahaya dari sebuah panggung bukan sekadar para pelakunya, melainkan penonton yang terbiasa mengagungkan kepura-puraan . Sebab, ketika dusta berubah menjadi tontonan sehari-hari, akal sehat perlahan tumpul, nurani menjadi letih, dan keadilan kehilangan ruang untuk berdiri tegak . Maka, panggung tidak lagi sekadar ruang hiburan; ia menjelma cermin yang memantulkan rapuhnya sebuah bangsa.
Tingkah polah para badut di atas panggung itu tidak cukup menarik, tidak pula memuaskan. Lakonnya monoton, geraknya berulang, dan seluruh pertunjukan terasa seperti serial drama televisi yang alurnya tak pernah maju: membosankan, menjemukan, dan kehilangan daya gugah . Terlebih ketika sang badut kepala dengan terang-terangan mulai menampakkan watak aslinya, panggung itu tak lagi tampak sebagai hiburan, melainkan ruang tempat kuasa memperagakan kelicikannya sendiri.
Sebagai pemimpin bangsa Liliput yang telah satu dasawarsa berkuasa, ia tak meninggalkan jejak kebaikan yang berarti. Yang tertinggal justru kehancuran, kemunduran, dan kabut kelam yang mengendap di berbagai sudut kehidupan bangsa. Dosa-dosanya telah tersorot di ruang publik, sementara sebagian lainnya bersembunyi dalam bayang-bayang, samar namun tetap terasa hadir . Dalam situasi semacam itu, wajar jika ia mulai sibuk menghitung langkah, memastikan bahwa ketika masa pensiun tiba, dirinya dan para badut mahajana lain tetap dapat hidup aman, terkendali, dan terlindungi dari segala kemungkinan terbukanya lembar-lembar lama yang dapat menenggelamkan mereka.
Ia ingin bola kristal itu tetap utuh, agar tak pecah, tak mencair, dan tak membasahi dirinya dengan ingatan tentang masa lalu. Ia berharap segala dosa yang pernah dilakukan semasa menjadi badut kepala bisa menguap ke udara, lenyap tanpa sisa, seolah tak pernah ada jejak yang tertinggal di panggung sejarah. Pada titik inilah kuasa berubah menjadi kecemasan; jabatan yang semula tampak gagah ternyata tak ubahnya topeng yang harus terus dipertahankan agar luka lama tidak menagih balas.
Keadaan itu menjadi semakin mudah dijalankan karena negeri memang tengah rapuh di hampir semua bidang. Korupsi, kolusi, ketidakadilan, hukum yang tumpul, ekonomi yang pincang, sosial yang retak, pendidikan yang tertatih, hingga kedaulatan yang goyah menjadi pemandangan yang terlalu akrab . Di sela kekacauan itu, para vampir penghisap darah rakyat Liliput berpesta di meja kekuasaan, berlomba-lomba mengumpulkan pundi-pundi haram dari tubuh negeri yang terus diperas . Maka tak mengherankan jika atraksi para badut itu, walau sesungguhnya memuakkan dan menjijikkan, masih saja memperoleh tepuk tangan dari sebagian bangsa Liliput . Mereka seolah sedang menyaksikan hiburan, padahal yang tampil di hadapan mereka hanyalah drama kolosal yang telah kehilangan relevansi, pertunjukan usang yang dipentaskan demi memuaskan kerakusan pribadi dan kelompok.
“Demokrasi tanpa keadilan hanyalah lelucon saja.” — Gus Dur
Sang badut kepala tentu menikmati permainan ini. Ia memiliki segala atribut panggung: perkakas sirkus, teropong, kacamata khusus, dan sebuah grand key—kunci master yang dapat membuka dan mengunci banyak pintu sekaligus . Dengan perangkat itu, ia dapat menjangkau berbagai sudut negeri, mengawasi, mengatur, sekaligus menentukan siapa yang boleh masuk dan siapa yang harus tetap di luar . Tak heran para badut mahajana lainnya berlomba-lomba menjilat, mengelus, dan meninabobokan sang kepala badut . Mereka meyakini bahwa sosok itu adalah manusia super, perkasa, dan penentu jalan kemenangan bagi kelompok mereka, meski kekuasaan sejatinya hanya sementara dan waktu terus menghitung mundur.
Bangsa Liliput sendiri tak punya banyak ruang untuk melawan. Mereka lebih sering diposisikan sebagai objek dan komoditas, sekadar tubuh yang dapat diambil manfaatnya, perut yang harus diisi, dan sumber daya yang dapat dikeruk demi kesinambungan ekosistem anak cucu para badut mahajana itu sendiri . Di pelataran rumah, rakyat hanya mampu duduk termangu, meratapi nasib, dan menyaksikan pertunjukan yang semakin hari semakin menyerupai drama yang manis di permukaan, tetapi kosong di dalam . Yang disuguhkan hanyalah lip service: kata-kata yang terdengar indah, namun tak pernah sungguh-sungguh menjadi kenyataan.
Namun demikian, di tengah panggung yang gaduh itu, bangsa Liliput masih sesekali menggumamkan doa. Mereka tetap menyimpan secuil harapan bahwa alur cerita dapat berubah, bahwa negeri ini suatu saat akan berbelok menuju jalan yang lebih manusiawi. Harapan itu mungkin kecil, tetapi justru di sanalah sisa-sisa daya tahan sebuah bangsa bertahan hidup. Sebab, di antara para badut mahajana itu, barangkali masih ada satu dua yang menyimpan akal sehat, iman, dan hati putih walau setitik . Dan bila pun mereka tetap menjadi badut, semoga mereka adalah badut yang tak sekadar menghibur kekuasaan, melainkan badut yang membawa misi kebaikan bagi segenap bangsa Liliput: menghadirkan kehidupan yang lebih adil, lebih manusiawi, lebih riang, dan pada akhirnya lebih bahagia. (*)











