Oleh : U ElDias
Ada satu adegan yang selalu berulang, dari pemilu ke pemilu, seperti sebuah ritus yang tak pernah benar-benar mati: menjelang subuh, di gang-gang sempit, amplop-amplop kecil berpindah tangan. Orang menyebutnya “serangan fajar”. Sebuah eufemisme yang aneh— seolah subuh, waktu yang biasanya milik yang khusyuk, dipinjam untuk transaksi yang paling telanjang: suara ditukar dengan selembar uang, dan demokrasi, untuk sesaat, menjelma menjadi pasar kaget.
Saya kira banyak dari kita sudah lama berhenti terkejut. Politik uang bukan rahasia, bukan pula skandal yang mengagetkan siapa pun. Ia sudah menjadi semacam grammar politik lokal, tata bahasa yang diajarkan turun-temurun: menang itu soal berapa banyak yang bisa dibagi, bukan berapa banyak yang bisa dipercaya.
Tapi ada yang berubah, dan saya kira sebagian politisi kita belum benar-benar menyadarinya. Ada medan pertempuran baru yang jauh lebih senyap, dan justru karena senyap, ia lebih menentukan: layar telepon genggam, linimasa yang tak pernah tidur, dan cara persepsi terbentuk bukan lagi di bilik suara, melainkan jauh sebelum orang melangkah ke sana.
*
Di zaman ketika algoritma bekerja lebih rajin daripada tim sukses, kemenangan elektoral bukan lagi penanda kekuasaan yang aman. Ia bisa jadi hanya kemenangan sesaat—sebuah angka di kertas suara yang, begitu diunggah ke ruang publik digital, mulai digerus oleh ribuan komentar, meme, cuitan sinis, video pendek yang menertawakan.
Saya membayangkan seorang politisi yang menang telak di suatu daerah, dengan mesin uang yang bekerja sempurna: setiap RT punya “koordinator”, setiap suara punya harga, setiap kepala keluarga sudah dihitung sebagai unit yang bisa dibeli. Ia pulang dengan kemenangan, tapi tidak dengan kepercayaan. Sebab di saat yang sama, jutaan orang yang tak ia sentuh dengan amplop mana pun—generasi yang tumbuh dengan jempol di atas layar, yang mendapatkan berita bukan dari koran pagi tapi dari potongan video lima belas detik—sudah membentuk gambaran tentang siapa dirinya. Dan gambaran itu, sekali terbentuk, sulit dihapus dengan uang berapa pun.
Inilah yang saya sebut sebagai ironi baru demokrasi kita: menang di TPS, kalah di ruang publik. Sebab ruang publik hari ini bukan lagi alun-alun tempat orang berkumpul mendengarkan pidato. Ruang publik adalah linimasa, adalah kolom komentar, adalah jutaan layar kecil yang menyala serentak, membentuk semacam mata majemuk yang mengawasi—dan menertawakan—siapa saja yang dianggap tak tulus.
*
Ada godaan untuk berpikir bahwa branding dan pencitraan itu remeh, permukaan belaka, sesuatu yang “hanya” soal citra sementara politik uang itu “nyata”—karena bisa dihitung, bisa dibagi, bisa dilihat hasilnya dalam angka pemilih. Tapi justru di situ letak kekeliruannya. Politik uang bekerja dengan logika instan: sekali bayar, sekali pilih, selesai. Sementara persepsi bekerja dengan logika akumulasi—ia terbentuk pelan-pelan, dari ribuan interaksi kecil, dari cara seseorang menjawab kritik, dari kesan yang tertinggal setelah sebuah wawancara, dari apakah ia terlihat mendengarkan atau hanya berpidato.
Politisi yang mengabaikan ini biasanya berpikir bahwa opini publik adalah sesuatu yang bisa dibeli belakangan, sama seperti suara. Padahal opini publik, di era media sosial, adalah sesuatu yang tumbuh sendiri, seperti rumput liar di celah-celah trotoar—ia tak butuh izin, tak butuh anggaran, dan sering kali tak bisa dijinakkan dengan uang sebanyak apa pun. Ia hanya bisa dibentuk dengan kejujuran yang konsisten, atau setidaknya dengan kesan kejujuran yang dijaga lama.
*
Saya kira ada baiknya kita jujur juga soal mengapa politik uang masih bertahan, mengapa ia masih “berhasil” di banyak tempat. Sebab akan naif jika kita berpikir ini semata soal politisi yang bodoh atau ketinggalan zaman. Ada struktur yang menopangnya: kemiskinan yang membuat lima puluh ribu rupiah terasa lebih nyata daripada janji kebijakan, kesenjangan literasi digital yang membuat sebagian pemilih belum sepenuhnya masuk ke ruang publik digital, dan budaya patronase yang sudah berurat berakar, di mana hubungan personal—meski dibungkus uang—masih dianggap lebih terpercaya daripada visi-misi di atas kertas.
Maka mungkin lebih adil dikatakan begini: politik uang adalah strategi yang bekerja baik di ruang yang belum sepenuhnya berubah, sementara branding dan kesadaran media sosial adalah strategi untuk ruang yang sedang, dan akan terus, berubah. Politisi yang cerdik barangkali tak akan meninggalkan yang satu demi yang lain. Tapi politisi yang hanya mengandalkan yang lama—dan menyepelekan yang baru—sedang mempertaruhkan sesuatu yang lebih mahal dari kekalahan pemilu: mereka mempertaruhkan legitimasi jangka panjang, dan tanpa disadari, ikut mengikis kepercayaan pada politik itu sendiri.
*
Ada semacam kesombongan yang khas pada mereka yang merasa telah menemukan rumus kemenangan: “Saya sudah menang begini, kenapa harus berubah?” Tapi kemenangan yang dibangun di atas transaksi cenderung rapuh terhadap waktu. Ia menang hari ini, tapi tak punya cadangan kepercayaan untuk esok, ketika krisis datang, ketika kesalahan terungkap, ketika publik butuh sosok yang dipercaya bukan karena pernah memberi, tapi karena pernah didengar.
Di sinilah pentingnya memahami bahwa persepsi bukan sekadar make-up politik, bukan sekadar kosmetik yang ditempelkan menjelang kampanye. Ia adalah cermin dari bagaimana seorang politisi memilih untuk hadir: apakah ia berbicara kepada rakyat atau tentang rakyat, apakah ia hadir di ruang digital sebagai manusia yang bisa salah dan belajar, atau sebagai citra yang dipoles tim media lalu ditinggal begitu kamera mati.
*
Politik, pada akhirnya, adalah seni memenangkan kepercayaan—bukan sekadar memenangkan angka. Dan kepercayaan, berbeda dari suara, tak bisa dibagi dalam amplop. Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih pelan, lebih sabar, dan justru karena itu lebih tahan lama: dari bagaimana seseorang dilihat, didengar, dan dipercayai untuk waktu yang panjang, jauh melampaui hari pencoblosan itu sendiri.
Politisi yang akan bertahan sepuluh, dua puluh tahun ke depan, saya kira, bukanlah yang paling banyak modalnya. Melainkan yang paling awal menyadari bahwa panggung sesungguhnya telah berpindah—dari bilik suara ke layar kecil di tangan setiap orang, di mana persepsi dibentuk setiap detik, tanpa jeda, tanpa uang muka. (*)











