Presiden ASPEK Indonesia Apresiasi Pidato Menaker Dan Dinamika Positif Di ILC ke-113

Muhamad Rusdi, Presiden ASPEK Indonesia

SWARARAKYAT.COM, Jenewa, Swiss – Presiden Asosiasi Serikat Pekerja (ASPEK) Indonesia, Muhamad Rusdi, menyampaikan apresiasinya terhadap pidato Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Yassierli, dalam forum International Labour Conference (ILC) ke-113 yang tengah berlangsung di Jenewa, Swiss. Menurut Rusdi, pidato Menaker menggambarkan adanya keseriusan dan arah positif pemerintah dalam merespons dinamika ketenagakerjaan global, khususnya terkait tantangan dalam ekonomi platform digital.

Rusdi menyambut baik sikap pemerintah yang kini lebih terbuka dan progresif dalam menangani persoalan para pelaku ekonomi platform seperti pengemudi ojek online, pekerja lepas berbasis aplikasi, dan lainnya. Ia mengakui bahwa di awal, pemerintah memang terlihat gagap dan lambat dalam memahami kompleksitas isu ini. Namun, arah kebijakan yang disampaikan dalam pidato Menaker menunjukkan bahwa ada kemauan politik untuk memperbaiki situasi dan memberikan perlindungan yang layak kepada mereka.

Menurut Rusdi, komitmen pemerintah untuk mendorong transisi dari pekerjaan informal ke sektor formal adalah langkah besar yang patut didukung. Hal ini selaras dengan semangat yang berkembang dalam forum ILC, di mana isu perlindungan bagi pekerja platform menjadi salah satu fokus utama.

Ia juga mencatat bahwa suasana kebatinan delegasi Indonesia dari unsur tripartit—pemerintah, pekerja, dan pengusaha—cukup cair dan saling menghargai. Hal ini menciptakan iklim kerja sama yang konstruktif dalam menyikapi berbagai tantangan ketenagakerjaan di dalam negeri. “Diskusi dan perdebatan ada, tapi semua dalam semangat gotong royong untuk Indonesia yang lebih baik,” tambahnya.

Rusdi menyoroti bahwa jumlah delegasi dari unsur pekerja Indonesia yang dipimpin oleh M. Jumhur Hidayat tahun ini merupakan yang terbanyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Baginya, hal ini adalah kemajuan penting karena mencerminkan semakin kuatnya representasi suara buruh dalam forum-forum internasional. “Keterlibatan yang lebih luas ini memberi dampak positif dalam memengaruhi arah pembahasan yang berpihak pada kepentingan pekerja,” katanya.

Sejauh ini, hasil sidang-sidang ILC ke-113 menunjukkan arah yang menggembirakan. Komite-komite yang membahas isu ekonomi platform telah menyepakati pengakuan terhadap pelaku kerja platform sebagai pekerja, bukan sekadar mitra, yang artinya mereka berhak atas perlindungan sosial dan hak-hak lainnya. Rusdi menegaskan bahwa keputusan ini menjadi tonggak penting bagi perjuangan buruh di era digital.

Menutup pernyataannya, Rusdi juga menyinggung keputusan ILO yang mulai memberikan pengakuan terhadap Palestina, meskipun belum sepenuhnya. Ia berharap ke depan dunia akan menjadi tempat yang lebih adil dan beradab, dengan partisipasi aktif kaum buruh dalam berbagai aksi kemanusiaan dan pembangunan peradaban global. “Buruh bukan hanya urusan upah dan kerja, tapi juga bagian dari perjuangan kemanusiaan,” pungkasnya.(RYO)