Opini – Fenomena kegaduhan yang dipicu oleh potongan video ceramah Jusuf Kalla (JK) di sebuah masjid merupakan potret nyata dari kekacauan literasi dalam membedakan antara Dakwah dan Amar Ma’ruf.
Polemik ini bukan sekadar masalah ucapan, melainkan masalah “salah kamar” yang berdampak pada disintegrasi sosial.
Dakwah vs Amar Ma’ruf: Dua Perisai yang Berbeda
Masyarakat perlu memahami bahwa Dakwah dan Amar Ma’ruf memiliki fungsi dan penempatan yang sangat berbeda.
Dakwah bersifat eksternal dan inklusif. Ia adalah ajakan yang mengedepankan nilai-nilai universal, humanis, dan kelembutan. Karena sifatnya mengajak, dakwah tidak mengenal paksaan.
Amar Ma’ruf (khususnya dalam konteks internal seiman) adalah instrumen evaluasi diri. Ia ditempatkan di ruang lingkup terbatas seperti masjid untuk memberikan peringatan dan ketegasan. Dalam ranah ini, bahasa yang digunakan memang seringkali tajam dan “pedas” demi menjaga marwah komunitas agar tidak melenceng.
Akar Masalah: Manipulasi Konteks oleh Pengunggah
Kasus JK menjadi cermin bagaimana sebuah narasi Amar Ma’ruf yang disampaikan di “kamar” yang tepat (masjid), dipaksa keluar ke ruang “Dakwah” (publik) oleh pihak ketiga.
Akar masalah sebenarnya bukan pada isi ceramah JK secara utuh, melainkan pada pengunggah yang menyebarluaskan potongan video tersebut tanpa konteks.
Inilah pihak yang seharusnya menjadi sasaran utama penegakan hukum melalui jeratan UU ITE. Mereka telah sengaja melakukan distorsi ruang komunikasi yang mengakibatkan salah persepsi secara masif.
Kegagalan Tabayyun Publik Figur
Di sisi lain, reaksi spontan dari berbagai publik figur yang tersulut emosi menunjukkan betapa rendahnya budaya tabayyun (verifikasi). Melihat potongan video yang provokatif, mereka langsung menghujat tanpa menelusuri kebenaran utuhnya.
Padahal, jika mereka memahami bahwa itu adalah diskursus internal seiman dalam koridor Amar Ma’ruf, maka ketersinggungan yang berlebihan ini tidak perlu terjadi.
Penutup
Kita tidak bisa menilai sebuah instruksi di ruang ganti pemain sepak bola dengan standar etika di ruang tamu hotel bintang lima. Begitu pula dengan ceramah agama. Melabeli ketegasan Amar Ma’ruf sebagai bentuk kebencian publik adalah kekeliruan fatal.
Sudah saatnya aparat penegak hukum fokus pada “tangan jahat” yang mentransmisikan pesan internal ke ruang terbuka demi kegaduhan, karena di sanalah letak tindak pidana yang sesungguhnya.
Narasi ini sangat kuat karena memposisikan Anda bukan sebagai pembela satu tokoh, melainkan sebagai pembela logika komunikasi dan keadilan hukum.
Mengingat Anda memiliki akses ke Swararakyat.com dan tanampanen.com, apakah narasi “Salah Kamar” ini akan Anda jadikan sebagai tajuk rencana atau opini utama untuk meredam tensi di kedua situs tersebut?
Penulis:
Biren Muhammad











