11 September 2025
Oleh: NN Putra Amien Jaya
Hari ini rasa kecewa masih menempel tebal di dada pecinta sepak bola nasional. Timnas U-23 kita gagal total di ajang Pra Piala Asia U-23 yang digelar di Arab Saudi. Sebuah kemunduran yang jelas terasa menyakitkan.
Bayangkan saja, saat melawan Laos—negara yang nyaris tak punya sejarah mentereng di sepak bola Asia—Garuda Muda hanya bisa bermain imbang. Minim kreasi, tumpul di lini depan, dan pelatih gagal membaca situasi. Ketika penyerang buntu, tak ada solusi perubahan pola permainan. Setelah itu memang menang besar 5-0 lawan Makau, tapi siapa pun tahu, Makau hanyalah tim pelengkap. Kemenangan itu bukan ukuran kualitas.
Dan puncaknya, tadi malam kita dihajar raksasa Asia, langganan Piala Dunia, dengan skor tipis 0-1. Skor tipis tapi menohok, karena total poin kita hanya empat dari tiga laga—imbang lawan Laos, menang lawan Makau, dan kalah lawan sang raksasa.
Padahal, tak jauh-jauh ke belakang, Piala Asia 2024 menjadi titik terang sejarah Garuda Muda. Di bawah asuhan Shin Tae-yong (STY), kita bisa menembus semifinal bahkan menyingkirkan Korea Selatan. Pola permainan kala itu hidup, penuh kreativitas, meski dengan segala keterbatasan penyerang. STY tahu betul bagaimana mengukur kapasitas pemainnya, tahu kapan harus bertahan, kapan harus menyerang. Itu adalah capaian tertinggi Timnas U-23 sepanjang sejarah.
Lalu, apa yang terjadi? Kebijakan PSSI mengganti STY justru di saat persiapan menuju Pra Piala Dunia tengah on fire. Sebuah langkah gegabah yang tidak masuk akal. Bahkan para pemain naturalisasi di Belanda pun mengaku bingung, tapi apa daya, mereka hanya bisa tunduk pada keputusan organisasi.
Erick Thohir selaku ketum PSSI berdalih, “semua ada risiko, dan saya mengambil risiko ini untuk mencapai Piala Dunia 2026.” Tapi faktanya, risiko yang diambil itu berbuah pahit. Pelatih pengganti STY memang pernah jadi pemain top, tapi rekam jejak kepelatihannya kosong prestasi. Saat melatih timnas kecil Curacao tahun 2021, catatannya: 6 laga, hanya 1 kali menang. Lalu, mengapa ia yang dipilih? Benarkah hanya karena faktor komunikasi, seperti dalih pengamat Towel? Padahal dalam sepak bola, bahasa sudah universal, tinggal sediakan penerjemah dan staf lokal, selesai urusan.
Kini nasi sudah jadi bubur. Semifinalis 2024 berubah jadi tim yang gagal lolos ke Piala Asia 2026. Ironi yang lahir dari kebodohan pengambil kebijakan.
Tapi satu hal yang tak boleh hilang: semangat Garuda Muda. Kalian tetap pejuang di lapangan. Jangan tertunduk hanya karena kegagalan ini. Ingat, yang mencari popularitas semu demi jabatan hanyalah para elite organisasi. Rakyat tetap mendukung kalian, karena kalian bermain bukan untuk mereka, tapi untuk Merah Putih.(sang)













