Perkembangan Terkini Tragedi Ponpes Al Khoziny: 5 Santri Tewas, 59 Masih Hilang di Reruntuhan

Foto: Istimewa

Sidoarjo, Swararakyat.com – Setelah 3 hari tanpa tanda kehidupan, keluarga hanya berharap jasad santri segera ditemukan.

Upaya penyelamatan korban ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, kini memasuki babak baru. Setelah lebih dari tiga hari pencarian tanpa tanda-tanda kehidupan, tim SAR beralih dari operasi penyelamatan ke tahap pemulihan jenazah.

Musala Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin (29/9/2025) sore saat puluhan santri melaksanakan salat Ashar berjamaah. Bangunan diketahui sedang dalam proses pengecoran lantai atas ketika runtuh, diduga akibat pondasi yang tidak mampu menahan beban tambahan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut peristiwa ini sebagai kegagalan teknologi konstruksi, dan menegaskan perlunya pengawasan teknis lebih ketat pada pembangunan gedung pendidikan.

Korban Terus Bertambah

Hingga Jumat (3/10/2025), data terakhir mencatat:

5 santri meninggal dunia

77 orang luka-luka

102 orang berhasil dievakuasi

59 orang masih hilang dan diduga tertimbun reruntuhan.

Beberapa santri sebelumnya berhasil ditemukan hidup-hidup, namun peluang bertambahnya korban selamat kian tipis seiring berlalunya waktu.

Alat Berat Dikerahkan

Setelah mendapat persetujuan dari keluarga korban, alat berat akhirnya dikerahkan untuk mempercepat pembongkaran puing. Langkah ini ditempuh setelah penggunaan drone termal, kamera fleksibel, dan sensor getaran tidak lagi mendeteksi tanda-tanda kehidupan.

“Keselamatan relawan tetap prioritas. Struktur bangunan yang rapuh membuat proses evakuasi sangat berisiko,” ujar salah satu petugas SAR di lokasi.

Dugaan Pelanggaran Bangunan

Seiring proses evakuasi, aparat juga mendalami penyebab ambruknya musala. Diduga pembangunan lantai tambahan dilakukan tanpa izin resmi dan tidak sesuai standar teknis. Ada indikasi bahwa pondasi bangunan tidak dirancang untuk menopang beban konstruksi baru.

Pemerintah daerah bersama aparat kepolisian kini membuka penyelidikan. Jika terbukti ada kelalaian, pihak pengelola ponpes dapat dimintai pertanggungjawaban hukum.

Duka Keluarga Korban

Ratusan keluarga korban masih bertahan di sekitar lokasi, menunggu kabar terbaru. Banyak dari mereka menyerahkan sampel DNA agar proses identifikasi jenazah lebih cepat dilakukan.

“Harapan kami tinggal satu, agar anak-anak kami ditemukan, meski sudah tidak bernyawa,” tutur salah satu wali santri dengan suara bergetar.

Tragedi Ponpes Al Khoziny membuka mata publik terhadap lemahnya pengawasan bangunan pendidikan berbasis pesantren. Pemerintah pusat diminta untuk memperketat regulasi izin pembangunan, sekaligus memberikan pendampingan teknis agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. (*)