Bhinneka Sebagai Geopolitik: Membaca Madura Dan Bali Dalam Nusantara

Oleh: Bayu Sasongko,

Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara

Surabaya, SwaraRakyat.com – Di pagi hari yang tenang di pesisir Pulau Madura, laut tampak seperti naskah tua yang terus ditulis ulang oleh angin dan musim. Perahu-perahu nelayan bergerak perlahan meninggalkan pantai, mengikuti jalur yang telah diwariskan turun-temurun jauh sebelum republik ini lahir. Di sana, laut bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan ruang ingatan, tempat sejarah dijalani sebelum sempat dituliskan.

Pada saat yang sama, di Bali, suara gamelan mengalun dari halaman pura yang menghadap gunung dan laut. Bunyi itu bukan hanya irama ritual, tetapi cara masyarakat menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan yang ilahi. Sekilas keduanya tampak berbeda. Namun jika menyingkap lapisan sejarah yang lebih dalam, Madura dan Bali sesungguhnya tumbuh dari akar yang sama: peradaban maritim Nusantara.

Selama ini, kita terlalu sering memahami Indonesia melalui batas-batas administratif, statistik pembangunan, atau kategori identitas yang kaku. Cara pandang seperti ini merupakan warisan negara modern yang tidak selalu sejalan dengan kenyataan sejarah Nusantara. Kita terbiasa melihat pulau sebagai unit yang terpisah, padahal leluhur kita memandang kepulauan sebagai jaringan yang saling terhubung.

Di sinilah letak persoalannya. Cara berpikir daratan (land-based thinking) perlahan membuat kita lupa bahwa Indonesia lahir dari laut. Kita membangun jalan, tetapi melupakan jalur pelayaran. Kita memperkuat batas wilayah, tetapi sering mengabaikan ruang perjumpaan yang selama berabad-abad justru membentuk bangsa ini.

Padahal jauh sebelum lahirnya negara modern, laut telah menjadi pengikat utama Nusantara. Dari era Sriwijaya hingga Majapahit, kekuatan politik tidak dibangun semata-mata dengan menguasai daratan, melainkan dengan menghubungkan pelabuhan, jalur perdagangan, dan komunitas-komunitas pesisir. Kekuatan Nusantara bukan berasal dari penyeragaman wilayah, melainkan kemampuan menciptakan keterhubungan di tengah keragaman.

Laut Jawa, Selat Madura, dan Selat Bali merupakan bagian dari ruang peradaban tersebut. Di atas perairan itu, para pedagang membawa rempah, para ulama membawa gagasan, para pelaut membawa teknologi, dan para perantau membawa kebudayaan. Mobilitas manusia menciptakan jaringan yang jauh lebih kuat daripada batas administratif yang kemudian dibentuk kolonialisme.

Karena itu, memahami Madura dan Bali sebagai dua dunia yang sepenuhnya berbeda sesungguhnya merupakan penyederhanaan sejarah.

Madura dan Bali justru memperlihatkan cara kerja Nusantara yang sesungguhnya. Keduanya berbeda dalam ekspresi budaya, namun terhubung dalam logika peradaban yang sama.

Madura merepresentasikan keteguhan, keberanian, solidaritas komunal, serta etos maritim yang kuat. Bali merepresentasikan harmoni, keseimbangan kosmologis, dan kemampuan merawat hubungan antara manusia dengan alam. Perbedaan itu bukan kontradiksi. Ia adalah dua wajah dari kebijaksanaan Nusantara yang sama.

Dengan kata lain, Madura dan Bali bukan sekadar dua pulau. Madura dan Bali adalah miniatur Indonesia. Jika Madura melambangkan energi sosial, maka Bali melambangkan energi kultural. Jika yang satu mengajarkan ketangguhan, yang lain mengajarkan keseimbangan. Indonesia membutuhkan keduanya secara bersamaan.

Di sinilah konsep Budaya Geopolitik Nusantara menemukan relevansinya.

Budaya Geopolitik Nusantara bukan sekadar teori tentang wilayah atau kekuasaan. Ia adalah cara pandang yang melihat ruang sebagai hubungan hidup antara manusia, alam, sejarah, dan nilai-nilai peradaban. Dalam perspektif ini, laut tidak dipahami sebagai pemisah geografis, melainkan sebagai ruang yang menyatukan berbagai identitas ke dalam satu jaringan kehidupan bersama.

Pandangan ini berbeda dari geopolitik klasik yang sering bertumpu pada perebutan wilayah dan dominasi ruang. Budaya Geopolitik Nusantara justru bertumpu pada keterhubungan, keseimbangan, dan keberlanjutan. Ruang tidak dilihat sebagai objek untuk dikuasai, tetapi sebagai medium untuk membangun kehidupan bersama.

Gagasan tersebut menjadi semakin penting ketika dunia memasuki babak baru persaingan global.

Hari ini, kawasan Indo-Pasifik menjadi pusat perhatian dunia. Jalur laut kembali menjadi arena perebutan pengaruh ekonomi, energi, teknologi, dan keamanan. Negara-negara besar berlomba mengamankan koridor pelayaran dan rantai pasok global. Laut kembali menjadi ruang strategis abad ke-21.

Ironisnya, ketika dunia mulai memandang laut sebagai masa depan, sebagian dari kita justru masih melihat laut sebagai halaman belakang pembangunan.

Padahal Indonesia memiliki modal sejarah yang tidak dimiliki banyak bangsa lain. Kita bukan sekadar negara yang memiliki laut. Kita adalah bangsa yang lahir dari laut.

Karena itu, kebangkitan Nusantara tidak boleh dimaknai hanya sebagai pembangunan pelabuhan, jalan tol, atau kawasan ekonomi baru. Kebangkitan Nusantara yang sesungguhnya adalah kebangkitan cara pandang.

Dari pulau sebagai batas menjadi pulau sebagai simpul. Dari laut sebagai pemisah menjadi laut sebagai penghubung. Dari perbedaan sebagai ancaman menjadi perbedaan sebagai energi peradaban.

Pancasila lahir dari kesadaran tersebut. Demikian pula Bhinneka Tunggal Ika. Keduanya bukan sekadar produk politik, melainkan hasil dari pengalaman panjang masyarakat kepulauan dalam mengelola keberagaman tanpa kehilangan persatuan.

Karena itu, Bhinneka Tunggal Ika bukanlah slogan. Ia adalah teknologi sosial Nusantara. Sebuah kecerdasan peradaban yang memungkinkan berbagai identitas hidup berdampingan tanpa harus saling meniadakan.

Di tengah meningkatnya polarisasi identitas, fragmentasi sosial, dan menguatnya politik keterbelahan, pelajaran dari Madura dan Bali menjadi semakin relevan. Keduanya menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu menghasilkan konflik. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi sumber kekuatan apabila dipertemukan dalam ruang bersama yang adil dan bermakna.

Pada akhirnya, Indonesia tidak lahir karena kesamaan agama, bahasa daerah, ataupun suku bangsa. Indonesia lahir karena kemampuan menjadikan perbedaan sebagai jalan bersama.

Ketika kemampuan itu melemah, yang tersisa hanyalah kumpulan pulau yang terpisah oleh laut. Namun ketika kemampuan itu hidup, laut berubah menjadi jembatan peradaban, perbedaan berubah menjadi kekuatan, dan Nusantara kembali menemukan jati dirinya.

Maka pelajaran terbesar dari Madura dan Bali bukanlah tentang dua pulau yang berbeda. Melainkan tentang satu peradaban yang sejak awal memahami bahwa masa depan tidak dibangun melalui penyeragaman, tetapi melalui keterhubungan.

Sebab Nusantara tidak pernah berdiri di atas kesamaan. Nusantara berdiri di atas kemampuan untuk hidup bersama dalam perbedaan.

Dan selama kemampuan itu tetap terjaga, Indonesia tidak hanya akan bertahan sebagai negara, tetapi juga tumbuh sebagai peradaban maritim yang memberi arah bagi dunia abad ke-21.(sang)