Oleh: Azis Khafia
“Siapa yang merasa paling Betawi, paling memahami betawi, paling betawi dibanding yang lainnya, sesungguhnya ia bukanlah Betawi !”
Kalimat diatas hanya untuk menggambarkan bahwa tidak boleh ada *yang paling merasa* , karena Hakikat Betawi memiliki banyak warna, banyak rasa dan aroma, namun demikian mereka dapat menyatu dalam ikatan kesadaran dan penghornatan pada apa yang mereka putuskan bersama melalui pintu musyawarah dan mentaati siapa yang mereka yakini memiliki keilmuan, pengalaman dan kearifan. Hal ini adalah model perjuangan dan pergerakan sosial politik Betawi yang telah lama diwariskan secara turun temurun. Catatan sejarah bisa kita baca bagaimana Thamrin Thabrie dan Abdul Manaf dan kawan-kawan membangun Perkoempoelan Kaoem Betawi tahun 1923 yang kemudian memiliki kecabangan yakni Pemoeda Kaoem Betawi tahun 1927
Pada perkembangan selanjutnya kelompok Thamrin Tabrie yang dilanjutkan oleh anaknya yakni Mohammad Hoesni Thamrin (MHT) pada fase perjuangannya lebih memilih sikap kooperatif (ikut masuk dalam sistem kolonial saat itu) sedangkan Abdul Manaf dan lainnya memilih sikap non kooperatif (anti kolonialisme), meski mereka berbeda pandangan dan sikap perjuangan tetapi mereka tetap dalam ikatan kebetawian dan saling mensuport dan bukan hanya sesama mereka (betawi) tetapi dengan siapapun selagi orientasi utamanya adalah kemaslahatan umat, misalnya kemerdekaan Indonesia (saat itu). Lihat bagaimana MH.Thamrin ketika di volksraad (parlemen bentukan belanda); MH.Thamrin tetap sosok yang krtis terhadap pemerintah (belanda) dan bersamaan dengan itu ia mensuport perjuangan Soekarno dan kawan-kawannya yang mengambil sikap non koo.
Pada era 1970-an lahir dan tumbuh organisasi Betawi, namun hanya beberapa saja yang menggunakan kata “Betawi” yakni Keluarga Mahasiswa Betawi (KMB), Keluarga Pelajar Betawi (KPB), Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) selebihnya menggunakan kata “Jakarta”, seperti Ikatan Warga Djakarta (IWARDA), Perstuan Masyrakat Jakarta Mohammad Husni Thamrin (PERMATA MHT), Ikatan Keluarga Anak Djakarta (IKB ANDA). Ketika saya konfirmasi kepada sesepuh Betawi yang aktif di IWARDA, PERMATA MHT dan yang pakai lakof “Jakarta” pada organisasi mereka meski isinya adalah anak-anak betawi, ada dua jawaban yang menarik, pertama, untuk merangkul seluruh potensi yang ada sehingga organisasi menjadi inklusif, Kedua, Kita menjaga “Marwah Betawi”, karena betawi sarat dengan nilai kearifan jadi jangan gampang bawa- bawa nama betawi bisa kualat atau ketula nanti. Dari situlah saya makin ta’zim pada para tokoh Betawi yang sedemikian apik dalam menjaga marwah kebetawian.
Pada era orde baru tahunn1980 an, disaat penguasa orde baru begitu kuat dan otiriter, kaum Betawi dihadapkan pada realitas politik bahwa basis dan akar ideologinya mayoritas di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), namun pemerintah berusaha melakukan pendekatan persuasif yang pada akhirnya Ikatan Warga Djakarta (IWARDA) menjadi orsos marsinal nya Golongan Karya (GOLKAR). Pada tahun 1982 pemerintah melalui Gubernur Jakarta saat itu mendorong lahirnya organisasi sentral Kebetawian, sebagai corong sekaligus mitra strategis pemerintah, lahirnya Badan Musyawarah Organisasi Masyarakat Betawi (Bamus Betawi).
Ketika reformasi tahun 1998 bergulir, kaum.Betawi dan ormas berlebel brtawi pun muncul bak jamur dimusim hujan, tanpa filter yang jelas, yang pada gilirannya muncullah apa yang menurut peribasa betawi “Kaya labu kagak dikebonin” geluntungan aja masing-masing, merasa paling betawi, merasa paham betawi dan merasa tokoh. Maka munculah “Pengki naek ke bale”dan sederetan perilaku yang kalo diponten (nilai) perilaku tersebut bertolak belakang dengan ajaran dan nilai betawi…..(bersambung)













