Jakarta – Presenter Andy F. Noya, yang selama ini dikenal sebagai sosok tenang dan inspiratif di Kick Andy, tak kuasa membendung amarahnya.
Ia meluapkan representasi kemarahan sebagai “pembayar pajak patuh” yang merasa dikhianati oleh sistem.
Sosok yang dikenal santun ini tak mampu lagi membendung amarahnya melihat realita ironis yang menimpa rakyat kecil dan para pekerja keras di Indonesia.
Kegelisahan Andy bukan sekadar soal besaran pajak, melainkan soal ketidakadilan dan hilangnya integritas pengelolaan uang rakyat.
“Pemerintah ke mana saat rakyat luntung-lantung mencari kerja?” Itulah pertanyaan besar yang mencuat.
Masyarakat berjuang sendiri, jatuh bangun membangun ekonomi tanpa bantuan signifikan dari negara.
Namun, begitu keringat itu membuahkan hasil, negara hadir dengan tangan terbuka—bukan untuk memberi bantuan, melainkan untuk memotong pajak dengan angka yang seringkali terasa “mencekik”.
“Saya marah! Saat kita susah, saat kita berjuang mencari pekerjaan untuk menyambung hidup, pemerintah tidak ada di sana. Kita cari kerja sendiri, kita peras keringat sendiri. Tapi begitu kita mendapatkan penghasilan, tiba-tiba pemerintah datang memotong pajak dalam jumlah besar,” ungkap Andy.
“Hati ini semakin sakit, karena pajak yang kita bayar dengan jujur—pajak yang dikumpulkan dari keringat rakyat—justru banyak yang dikorupsi oleh mereka yang seharusnya mengelola. Kita dipaksa patuh, sementara mereka bebas berpesta di atas penderitaan rakyat,” lanjutnya.
Masyarakat bukan tidak mau membayar pajak, tapi mereka kehilangan kepercayaan karena melihat gaya hidup mewah para oknum pejabat pajak yang berbanding terbalik dengan pelayanan publik.
Fakta bahwa uang pajak dikorupsi adalah bentuk pengkhianatan tertinggi terhadap kontrak sosial antara rakyat dan negara. Bagaimana pendapat pembaca?
Andy F Noya Geram: Saat Susah Negara Absen, Giliran Sukses Dicekik Pajak dan Dikorupsi













