Opini  

Amal Yang Tak Pernah Kita Miliki

Ryo Disastro

Oleh: Ryo Disastro 

Belum lama ini, media sosial ramai memperbincangkan perdebatan antara Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan seorang mahasiswa. Perdebatan itu bermula ketika Amran membagikan bantuan kepada sejumlah mahasiswa, lalu seorang mahasiswa mengkritik bahwa tindakan tersebut belum menyentuh persoalan yang lebih substantif. Amran menegaskan bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah kebaikan, sementara kritik yang muncul mengajak melihat akar persoalan di balik tindakan itu. Terlepas dari siapa yang lebih tepat dalam perdebatan tersebut, peristiwa ini menghadirkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih menarik untuk direnungkan.

Selama ini kita terbiasa mendengar bahwa setiap amal akan ditimbang, dicatat, lalu menjadi bekal menuju surga. Cara pandang ini tentu memiliki dasar dalam ajaran Islam. Namun, jika berhenti pada pemahaman tersebut, ada satu pertanyaan yang masih menggantung: dengan modal apa sebenarnya manusia beramal?

Sejak lahir, manusia tidak membawa apa pun. Nafas pertama bukan hasil usahanya. Jantungnya berdetak tanpa ia perintah. Akalnya tumbuh bukan karena ia menciptakannya. Tubuhnya, kesehatannya, kesempatan hidupnya, bahkan kemampuan menggerakkan satu jari pun merupakan karunia yang terus-menerus diberikan Allah.

Al-Qur’an mengingatkan, “Apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya (QS.An-Nahl [16]:53).” Jika demikian, bukankah seluruh “modal” untuk berbuat baik sesungguhnya berasal dari-Nya?

Seorang yang bersedekah hanya dapat memberi karena lebih dahulu diberi. Seorang yang mengajar hanya dapat berbagi ilmu karena lebih dahulu dianugerahi pengetahuan. Bahkan seseorang yang mampu berdiri untuk salat hanya dapat melakukannya karena Allah masih mengaruniakan kehidupan, kesehatan, dan kekuatan.

Kesadaran ini perlahan mengubah cara kita memandang amal. Amal bukan lagi sesuatu yang kita miliki, melainkan sesuatu yang Allah izinkan terjadi melalui diri kita. Inilah letak perbedaan antara menghitung amal dan mensyukuri amal.

Ketika amal dipandang sebagai milik pribadi, ia mudah berubah menjadi alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain. Sedikit demi sedikit muncul keinginan agar kebaikan itu diakui, dihargai, atau bahkan menjadi semacam tabungan spiritual yang kelak dapat “ditukar” dengan surga.

Padahal Rasulullah pernah mengingatkan bahwa tidak seorang pun masuk surga semata-mata karena amalnya, bahkan beliau sendiri, kecuali dengan rahmat Allah (HR. al-Bukhari dan Muslim). Pesan ini menggeser pusat perhatian kita: keselamatan bukan hasil transaksi, melainkan anugerah.

Dengan sudut pandang seperti itu, amal tidak kehilangan maknanya. Justru maknanya menjadi lebih dalam. Amal bukanlah alat untuk menagih balasan kepada Allah, melainkan cara manusia mengakui bahwa seluruh hidupnya bergantung kepada Allah.

Kesadaran seperti ini juga menghindarkan kita dari jebakan lain yang sering muncul dalam kehidupan modern: mengukur nilai manusia berdasarkan apa yang tampak.

Di tengah masyarakat, tidak jarang kekayaan, filantropi, atau aktivitas sosial menjadi ukuran kesalehan. Orang yang banyak memberi lebih mudah dipandang mulia. Dalam dunia politik, kegiatan sosial bahkan dapat berubah menjadi modal untuk membangun citra dan memperoleh kepercayaan publik. Kebaikan tetaplah kebaikan, tetapi ketika ia mulai diperlakukan sebagai aset untuk memperoleh pengakuan, sesuatu yang sangat halus sedang bergeser dalam hati manusia.

Bukan berarti membantu sesama menjadi keliru. Sebaliknya, Islam justru mendorong kepedulian sosial. Yang patut direnungkan adalah bagaimana kita memandang perbuatan itu. Apakah kita sedang memberi, atau sedang dipercaya menjadi perantara pemberian Allah?

Perbedaan keduanya sangat tipis, tetapi dampaknya sangat besar. Jika kita merasa memberi, ego perlahan tumbuh. Jika kita merasa dititipi untuk memberi, syukur yang tumbuh.

Pandangan ini juga menghadirkan harapan bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan. Jika nilai manusia di hadapan Allah semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta yang dibagikan, tentu mereka yang miskin berada pada posisi yang tidak adil. Namun Islam tidak pernah menyempitkan amal hanya menjadi persoalan materi. Kesabaran, kejujuran, memaafkan, menjaga lisan, menahan amarah, bekerja dengan amanah, hingga ketulusan dalam menjalani kehidupan adalah bentuk-bentuk pengabdian yang tidak bergantung pada kekayaan.

Tujuan terdalam amal bukanlah menambah daftar pahala, melainkan mengikis ilusi bahwa kita adalah pemilik dari segala sesuatu. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari bahwa dirinya hanyalah penerima. Bahkan ketika ia berbuat baik, ia melihat bahwa Allah-lah yang lebih dahulu memberinya kemampuan untuk berbuat baik itu.

Makna tauhid bukan sekadar mengakui bahwa Allah itu Esa, tetapi juga menyadari bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang benar-benar berasal dari diri kita. Semua berawal dari-Nya, berlangsung dengan pertolongan-Nya, dan pada akhirnya kembali kepada-Nya. Amal tidak lagi menjadi alasan untuk merasa mulia. Amal berubah menjadi alasan untuk semakin bersyukur atas segala rahmat dan karunia Allah kepada kita.(*)

Depok, 31 Juli 2026