SEOUL, SWARARAKYAT.COM — Korea Selatan menargetkan pengembangan dan komersialisasi teknologi yang memungkinkan otak manusia terhubung dengan komputer. Teknologi yang dikenal sebagai brain-computer interface (BCI) itu menjadi salah satu bagian dari strategi teknologi jangka panjang Negeri Ginseng.
Target tersebut masuk dalam program Seven Major SEED, yang diumumkan pemerintah Korea Selatan pada 12 Agustus 2026. Pemerintah menargetkan produk BCI dapat dikomersialkan pada 2035. Program tersebut merupakan bagian dari upaya Seoul mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).
BCI merupakan teknologi yang memungkinkan sinyal dari otak diterjemahkan menjadi perintah untuk mengendalikan perangkat komputer. Teknologi ini antara lain dikembangkan untuk membantu orang dengan keterbatasan fisik berinteraksi dengan perangkat tanpa harus menggunakan gerakan tubuh secara konvensional.
Baca Juga: Jerry Sambuaga Tidak Memiliki Mental “Korea”,Berbanding Terbalik Dengan Ketum Bahlil
Pemerintah Korea Selatan sebelumnya telah menetapkan BCI sebagai salah satu teknologi strategis yang akan dikembangkan secara serius. Pada Maret 2026, Kementerian Sains dan TIK Korea Selatan mengumumkan strategi riset nasional untuk industri masa depan berbasis otak.
Dalam strategi tersebut, pemerintah membagi pengembangan BCI ke dalam teknologi invasif, seperti implan otak, dan teknologi noninvasif yang menggunakan perangkat yang dikenakan di tubuh. Penerapannya diarahkan antara lain untuk membantu mengatasi keterbatasan fisik, memulihkan fungsi sensorik, mengembangkan anggota tubuh buatan hingga mendukung robot yang dapat dikenakan manusia.
Korea Selatan bahkan menargetkan demonstrasi produk BCI untuk penyandang kelumpuhan pada keempat anggota tubuh pada 2030. Untuk mendukung target tersebut, pemerintah berencana membentuk konsorsium BCI yang melibatkan industri, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan rumah sakit. Pengembangan teknologi dasar, termasuk AI yang mampu membaca dan menerjemahkan sinyal antara otak dan komputer, juga akan dilakukan.
Baca Juga: Mengakhiri Paradoks Ekonomi Dengan Akselerasi Pemerataan
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Sains dan TIK Korea Selatan Bae Kyung-hoon mengatakan pemerintah ingin mengambil posisi terdepan dalam pengembangan teknologi tersebut.
“Kami akan berinvestasi secara proaktif dan berani pada teknologi BCI untuk mengamankan kepemimpinan dalam persaingan teknologi masa depan,” kata Bae dalam pengumuman strategi nasional pada Maret lalu.
Sementara itu, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyebut tujuh proyek SEED yang dikembangkan pemerintah sebagai calon mesin pertumbuhan generasi berikutnya sekaligus aset strategis nasional.
“Tujuh proyek SEED yang kita bahas hari ini akan menjadi mesin pertumbuhan generasi berikutnya dan aset strategis nasional,” kata Lee, seperti dikutip Reuters.
Selain BCI, strategi tersebut mencakup pengembangan reaktor modular kecil (SMR), energi fusi, energi terbarukan generasi berikutnya, teknologi kuantum, antariksa dan penerbangan, bioteknologi, serta teknologi untuk mengamankan pasokan mineral dan material penting.
Dalam bidang kuantum, misalnya, Korea Selatan menargetkan pengembangan prosesor kuantum 100 qubit yang telah memiliki koreksi kesalahan pada 2029. Di bidang antariksa, negara tersebut menargetkan misi pendaratan di Bulan pada 2030.
Meski demikian, target komersialisasi BCI pada 2035 bukan berarti teknologi tersebut sudah siap digunakan secara luas saat ini. Masih terdapat berbagai tantangan teknis dan medis, termasuk kemampuan menerjemahkan sinyal otak secara akurat, keamanan perangkat, serta pengembangan sistem yang dapat digunakan dalam jangka panjang.
Karena itu, target Korea Selatan lebih tepat dipandang sebagai peta jalan pengembangan teknologi, bukan pernyataan bahwa manusia dalam waktu dekat sudah dapat mengendalikan seluruh perangkat elektronik hanya dengan pikiran.
Jika berhasil dikembangkan, BCI berpotensi memberikan manfaat terutama bagi penyandang disabilitas. Dalam jangka lebih panjang, teknologi tersebut juga dapat membuka kemungkinan interaksi baru antara manusia dan mesin.
Untuk saat ini, Korea Selatan tengah berlomba membangun fondasi teknologi tersebut. Target 2030 dan 2035 akan menjadi tonggak penting untuk melihat sejauh mana teknologi penghubung otak manusia dengan komputer dapat berkembang dari penelitian menuju penggunaan nyata.(Red)













