JAKARTA, Swararakyat.com – Peta politik menuju Pemilu 2029 mulai menunjukkan dinamika. Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mencuat setelah sejumlah survei terbaru menempatkannya di atas Presiden Prabowo Subianto dalam simulasi elektabilitas calon presiden.
Baca Juga: Muktamar NU Hari Ini: Bursa Ketum PBNU Memanas, Arah Nahdliyin Jadi Sorotan
Survei Tempo Data Science yang dilakukan pada 31 Juli hingga 11 Agustus 2026 terhadap 1.260 responden di 38 provinsi mencatat Dedi Mulyadi memperoleh elektabilitas 41 persen dalam simulasi terbuka. Dalam simulasi dengan daftar nama, angkanya mencapai 42 persen, sementara Prabowo berada di angka 15 persen.
Baca Juga: Farhat Abbas Usul Pasangan Gibran-KDM di Forum Relawan Projo
Hasil tersebut menjadi perhatian karena posisi Dedi berbanding terbalik dengan Prabowo. Dalam survei yang sama, tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran juga dilaporkan turun menjadi 37 persen.
Namun, hasil survei belum dapat dimaknai sebagai kepastian arah Pilpres 2029. Jarak menuju Pemilu masih panjang dan preferensi pemilih sangat mungkin berubah mengikuti kinerja pemerintah, dinamika partai politik, serta munculnya kandidat-kandidat baru.
Dedi sendiri bukan satu-satunya figur yang diperhitungkan. Sejumlah survei sebelumnya juga menunjukkan persaingan yang mulai lebih kompetitif. Survei IPO, misalnya, masih menempatkan Prabowo unggul tipis dalam simulasi terbuka dengan 23,4 persen, sementara Dedi berada di posisi kedua dengan 21,7 persen.
Perbedaan hasil antar-survei menunjukkan bahwa peta politik 2029 masih sangat cair. Meski demikian, menguatnya elektabilitas Dedi Mulyadi menjadi sinyal bahwa persaingan menuju Pilpres 2029 mulai terbentuk lebih awal.
Bagi partai politik, perkembangan tersebut menjadi bahan penting untuk membaca perubahan preferensi publik. Sementara bagi pemerintahan Prabowo, tren penurunan kepuasan publik menjadi tantangan untuk menjaga kepercayaan masyarakat hingga akhir masa pemerintahan.
Pilpres 2029 memang masih jauh. Tetapi survei terbaru menunjukkan satu hal: persaingan politik nasional mulai bergerak. (ESH)













