Iran Siapkan Perang Penuh Lawan AS, Minyak Dunia dan Ekonomi Global Terguncang?

TEHRAN, SWARARAKYAT.COM — Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kembali mencapai titik didih. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka menyatakan bahwa negaranya siap melakoni perang skala penuh (total war) melawan Amerika Serikat (AS). Pernyataan tegas ini menyusul rentetan aksi saling balas militer dan serangan beruntun terhadap titik-titik strategis di kawasan Teluk.

Sebagai bentuk respons militer, Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan mulai menggempur sejumlah pangkalan militer AS serta memblokade dan menargetkan kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Jalur sempit ini merupakan urat nadi energi dunia yang melalukan sekitar seperlima pasokan minyak mentah global.

Pasar Energi Mendidih: Harga Minyak Lewati US$ 100

Pernyataan “perang total” dan gangguan pada Selat Hormuz langsung memicu kepanikan massal di pasar komoditas internasional. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam:

* Brent Crude: Menerobos level psikologis US$ 101 per barel, naik signifikan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

* West Texas Intermediate (WTI): Menyusul naik drastis melampaui US$ 94 per barel.

Analis energi memperingatkan, jika blokade total di Selat Hormuz berlangsung lama, pasokan harian minyak dunia akan memampat drastis dan berpotensi mendorong harga hingga mendekati atau melampaui rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Ancaman Nyata bagi Ekonomi Global

Guncangan pada sektor energi ini diyakini membawa dampak berantai (domino effect) terhadap perekonomian global:

* Gelombang Inflasi Baru: Kenaikan harga minyak mentah secara langsung mengerek biaya logistik dan produksi industri global, yang berisiko memicu lonjakan harga barang dan bahan baku di berbagai negara.

* Krisis Rantai Pasok Energi: Kapal-kapal tanker yang tertahan dan memilih putar arah menghindari ancaman keamanan di Teluk Oman memicu kenaikan ongkos kirim dan premi asuransi pelayaran secara mendadak.

* Tekanan BBM di Negara Berkembang: Bagi negara pemimpor minyak seperti Indonesia, lonjakan harga minyak dunia ini akan memperberat beban subsidi energi serta memicu penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.

Situasi hingga kini masih sangat memanas. Seluruh pasar finansial global terus memantau dengan ketat pergerakan armada militer di Teluk Persia serta potensi langkah lanjutan dari Sekutu dan AS.(Ren)