Oleh : Dadan K Ramdan
Doktrin Penundaan: Senjata Senyap Kolonial
Dalam catatan sejarah kolonial, Snouck Hurgronje—yang menyusup ke Mekkah dengan nama samaran Abdul Ghaffar—sangat memahami bahwa kekuatan terbesar umat Islam di Nusantara tidak terletak pada jumlah pasukan, melainkan pada ikatan spiritualitasnya. Melalui tarekat-tarekat sufi (seperti Qadiriyah wa Naqsyabandiyah atau Sammaniyah), para ulama dan santri membangun soliditas komunal dan mentalitas berani mati melawan penjajah kafir
Untuk mematahkan perlawanan ini, Snouck tidak hanya menggunakan peluru, melainkan melakukan propaganda pemikiran (ghazwul fikr). Ia mempromosikan dogma halus yang melemahkan: menakut-nakuti masyarakat awam bahwa dunia tasawuf dan tarekat adalah wilayah “berbahaya” yang bisa membuat orang gila jika ilmunya belum tinggi, atau wilayah “taraf lanjut” yang hanya layak dimasuki oleh para lansia yang bersiap menghadapi kematian.
Dampak dari infiltrasi pemikiran ini melahirkan dua mitos yang masih dipercayai masyarakat hingga kini:
1. Mitos “Nanti Kalau Ilmu Sudah Tinggi”
Propaganda ini mengesankan bahwa syariat dan tarekat adalah dua bilik yang terpisah total. Masyarakat ditakuti bahwa belajar tarekat tanpa ilmu alat (nahwu, sharaf, fiqh tingkat tinggi) akan menggelincirkan akidah. Padahal, para ulama muktabar menegaskan bahwa tarekat hanyalah metode praktis (kaifiyah) untuk mengamalkan ihsan dan memperdalam kekhusyukan zikir. Memisahkan tarekat dari kehidupan sehari-hari kaum awam sama saja dengan merampas hak mereka untuk merasakan kelezatan iman.
2. Mitos “Nanti Kalau Sudah Tua”
Ini adalah pembunuhan karakter produktivitas pemuda Muslim. Mengarahkan tarekat hanya untuk golongan lansia bertujuan agar energi dinamis, keberanian, dan kejernihan spiritual para pemuda meredup. Kolonial Belanda sangat diuntungkan jika pemuda Muslim sibuk dengan urusan duniawi yang materialistis dan abai terhadap pembersihan jiwa. Akibatnya, banyak yang wafat sebelum sempat menata hati karena terus-menerus menunda keberagamaan yang mendalam.
Mengapa Belanda Sangat Takut pada Tarekat?
Berdasarkan kajian Adat dan Agama Orang Aceh yang diteliti Snouck, kepatuhan total seorang murid (murid) kepada mursyid (guru spiritual) dalam tradisi tarekat melahirkan struktur sosial yang sangat solid. Ketika sang mursyid mengumandangkan resolusi jihad melawan penjajah, para pengikut tarekat akan bergerak secara organik tanpa rasa takut.
Dengan menyebarkan sentimen bahwa tarekat itu rumit dan hanya untuk kalangan elite spiritual tertentu, Snouck berhasil mengisolasi para mursyid dari masyarakat awam. Rantai komando spiritual yang bisa menggerakkan revolusi massa pun berhasil dikendurkan secara perlahan.
Memutus Belenggu Propaganda: Tarekat adalah Kebutuhan Setiap Jiwa
Untuk melawan warisan pemikiran orientalis ini, umat Islam perlu kembali pada esensi ajaran para salafusshalih. Imam Malik radhiyallahu ‘anhu pernah menyatakan:
“Barangsiapa yang ber-fiqh (syariat) tanpa ber-tasawuf (tarekat) maka ia bisa menjadi fasik. Dan barangsiapa yang ber-tasawuf tanpa ber-fiqh maka ia bisa menjadi zindik. Barangsiapa memadukan keduanya, dialah yang menemukan kebenaran.”
Tarekat bukan tentang membaca kitab-kitab filsafat wujudiyah yang rumit, melainkan metode disiplin zikir, menjaga wudhu, membersihkan hati dari penyakit hasad, riya, dan takabur di bawah bimbingan seorang guru. Kebutuhan untuk membersihkan hati tidak mengenal batasan usia maupun strata keilmuan; ia adalah kewajiban setiap Muslim, baik muda maupun tua, awam maupun alim.
Kesimpulan
Sudah saatnya umat Islam terbebas dari sisa-sisa “fatwa politik” Snouck Hurgronje. Menunda belajar membersihkan hati (berthareqat) dengan alasan menunggu tua atau menunggu ilmu tinggi adalah jebakan sekularisasi terselubung. Usia tidak ada yang tahu, dan ilmu tidak akan pernah ada habisnya dikejar. Jangan sampai kesibukan menumpuk teori agama membuat kita wafat dalam keadaan hati yang keras dan lalai dari mengingat-Nya (*)













