Ambon,SwaraRakyat – Kota Ambon lagi-lagi memanas. Konflik antarwarga Hunuth–Hitu pada Selasa (19/8/2025) bikin 17 rumah ludes terbakar. Akibatnya, 779 jiwa harus ngungsi.
Pemicu awalnya? Perkelahian pelajar SMK 3 Waiheru yang bikin Alan Pelu (asal Hitu) meninggal. Tapi, polisi udah jelas bilang: pelakunya bukan orang Hunuth, melainkan siswa asal Tulehu. Sayangnya, warga Hitu keburu ngamuk.
DPRD: Tangkap Pelaku, Jangan Kalah Sama Bar-Bar
Ketua DPRD Ambon, Mourits Tamaella, minta polisi bergerak cepat.
“Pelaku penusukan bukan dari Hunuth. Sekarang giliran pelaku pembakaran ditangkap. Jangan biarkan hukum kalah sama aksi barbar,” tegasnya.
Gubernur: Maluku Itu Rumah Bersama
Gubernur Maluku ingatkan: kekerasan nggak boleh ditoleransi. Semua pelaku harus diproses hukum.
“Mari baku sayang, bukan baku bakar. Maluku pung bae lebih penting dari ego sesaat,” katanya.
Wali Kota: Rumah Akan Diganti
Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, janji rumah warga yang terbakar bakal dibangun lagi.
“Negara hadir, masyarakat tidak sendiri,” ujarnya.
Aktivis Bangkit Nusantara: Ganti Rugi Bukan Solusi
Di satu sisi Jhoni Latuheru sebagai aktifis bangkit Nusantara, kasih warning:
“Ganti rugi itu empati, tapi bukan keadilan. Kalau hukum nggak ditegakkan, provokasi bakal terus hidup.” Berikut catatan dari Jhoni Latuheru
1. Stop hukum rimba! Main hakim sendiri = luka makin dalam.
2. Ganti rugi yes, tapi hukum harus jalan biar ada efek jera.
3. Bijak bermedsos, jangan jadi kompor lewat video provokatif.
4. Maluku butuh healing sosial. Baku sayang lebih keren daripada baku bakar.(sang)













