Opini  

Catatan Dari Jenewa

Riskal Arief (Periset Nusantara Centre)

Oleh: Riskal Arief

Jenewa, 4 Juni 2025 — Angin musim semi menyapa lembut kota Jenewa pagi ini, saat langkah kaki saya menapaki gedung Palais des Nations untuk mengikuti hari ketiga Konferensi Perburuhan Internasional ke-113 (International Labour Conference/ILC). Bagi saya, ini sebuah kehormatan besar yang saya emban atas penugasan dari Bapak Ristadi, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN).

Di tengah kemegahan ruang-ruang rapat dan lalu-lalang para delegasi dari berbagai penjuru dunia, saya merasa kecil—tapi juga kuat. Kecil karena berasal dari negara berkembang dengan segudang tantangan ketenagakerjaan. Kuat karena membawa suara jutaan pekerja Indonesia yang menanti keputusan-keputusan penting dari forum ini.

Agenda yang Membelah Zaman

ILC tahun ini membahas sejumlah agenda strategis, seperti:
* Laporan Direktur Jenderal ILO tentang penguatan sistem perlindungan sosial global,
* Standard-setting untuk mendorong kerja layak di platform digital,
* Diskusi umum tentang transisi pekerjaan informal menuju formal,
* Peninjauan laporan aplikasi standar kerja oleh negara-negara anggota,
* Serta agenda-agenda kelembagaan lainnya yang memperkuat posisi ILO sebagai benteng hak-hak pekerja global.

Namun, perhatian utama saya dan banyak delegasi tahun ini tertuju pada satu komite penting: Standard-Setting Committee on Decent Work in the Platform Economy

Kerja Layak di Dunia Platform Economy

Di ruang rapat XVIII, tempat komite ini bersidang, atmosfer terasa intens tapi penuh harapan. Pembahasan soal kerja layak di ekonomi platform—atau yang kita kenal sehari-hari sebagai gig economy (work on demand)—menjadi magnet utama.

Bagaimana kita mendefinisikan hubungan kerja dalam dunia digital yang kabur antara pekerja dan mitra? Apakah mereka berhak atas perlindungan sosial? Apakah algoritma bisa menggantikan perundingan upah?

Diskusi mengalir hangat, sering kali tajam, tapi tetap saling menghargai. Perwakilan negara-negara maju, negara berkembang, serikat buruh internasional, dan perwakilan pengusaha saling beradu argumen. Di balik semua itu, satu pesan mengemuka: ekonomi digital harus tetap manusiawi.

Saya mencatat, ada dorongan kuat dari banyak negara agar ILO menetapkan konvensi baru tentang kerja layak di platform digital. Ini sangat penting, karena jutaan orang kini menggantungkan hidup dari pekerjaan berbasis aplikasi, dari kurir makanan hingga pekerja lepas daring. Tanpa standar global, banyak dari mereka rentan dieksploitasi.

Ketika AI Masuk ke Dunia Kerja

Hari ini saya sempat menghadiri salah satu side-event menarik, yakni diskusi tentang Artificial intelligence, innovation, and the world of work. Diselenggarakan di sela-sela konferensi utama, forum ini terasa seperti jendela menuju masa depan.

Dua periset ILO, Manal Azzi dan Pawel Gmyrek, membuka mata kita semua: AI bukan sekadar teknologi, tapi realitas yang akan membentuk ulang cara kita bekerja. Dari otomatisasi pabrik, penyaringan lamaran kerja secara algoritmik, hingga pengawasan kinerja buruh secara digital—AI menyentuh semua lini.

Namun, sebagaimana mereka tekankan, AI bukan musuh. Ia membawa banyak potensi manfaat: meningkatkan efisiensi, meringankan beban kerja, dan menghindarkan manusia dari pekerjaan berbahaya. Tapi seperti pisau bermata dua, AI juga membawa ancaman nyata terhadap pekerjaan-pekerjaan konvensional, khususnya di negara-negara yang belum siap dengan sistem perlindungan sosial yang adaptif. Kita tidak bisa menghindari AI, tapi kita bisa—dan harus—mengaturnya.

Panggilan untuk Bersatu: Buruh, Pemerintah, dan Pengusaha

Satu hal penting yang patut disadari semua pihak: tidak ada pihak yang bisa berjalan sendiri menghadapi disrupsi digital. Buruh/pekerja harus aktif menyuarakan perlindungan. Pemerintah harus bergerak cepat menyusun regulasi. Dan pengusaha harus membuka ruang dialog sosial yang inklusif.

Saya pulang ke homestay sore ini dengan rasa lelah, tapi juga optimis. ILC bukan sekadar pertemuan tahunan, tapi arena di mana masa depan dunia kerja dipertaruhkan dan dibentuk bersama. Besok, saya akan kembali hadir, dengan semangat yang sama: membawa suara pekerja Indonesia ke panggung global. Dan saya yakin—selama kita saling mendengar dan bekerja sama—kita akan menemukan jalan terbaik ke masa depan kerja yang adil, manusiawi, dan bermartabat.(*)

#ILC113 #KSPN #PlatformEconomy #FutureOfWork #AIAndLabou