Opini  

Dari Mao ke Shenzhen: Jalan Sunyi Tiongkok Menuju Abad ke-21 (Bagian 1)

ElDias (Pemerhati Masalah Masalah Sosial - Tinggal di Sumatera Barat)

Oleh : ElDias (Pemerhati masalah-masalah sosial)

Pada akhir 1970-an, hampir tidak ada indikator yang menunjukkan bahwa Tiongkok akan menjadi kekuatan global abad ke-21. Negara ini baru saja keluar dari satu dekade kekacauan politik, mengalami kelaparan massal yang menewaskan puluhan juta jiwa, dan memiliki tingkat pendapatan per kapita yang lebih rendah dibanding banyak negara berkembang lain. Sistem ekonomi runtuh, kepercayaan terhadap ideologi terkikis, dan negara berada dalam kelelahan kolektif. Namun dari titik paling rapuh inilah Tiongkok justru memulai salah satu transformasi paling radikal dalam sejarah modern bukan dengan meninggalkan komunisme, melainkan dengan membengkokkannya; bukan melalui revolusi baru, melainkan melalui disiplin, perencanaan, dan keberanian menundukkan ideologi pada realitas. Apa yang kemudian terjadi bukan sekadar kisah kebangkitan ekonomi, melainkan kelahiran sebuah model negara modern yang menantang asumsi dasar tentang hubungan antara pasar, negara, dan demokrasi.

Era Kekaisaran dan Pra Komunisme

Sejarah Tiongkok modern tidak bisa dipahami tanpa melihat karakter dasarnya sebagai negara yang lahir jauh lebih dulu daripada konsep bangsa modern. Sejak penyatuan pertama di bawah Dinasti Qin pada abad ke-3 SM, Tiongkok berkembang sebagai negara birokratis-sentralistik yang menjadikan stabilitas sebagai tujuan utama kekuasaan. Legitimasi politik tidak bersumber dari hukum atau kontrak sosial, melainkan dari konsep Mandate of Heaven, sebuah justifikasi moral-kosmologis yang memungkinkan dinasti berkuasa selama ia mampu menjaga ketertiban. Pola ini melahirkan negara yang kuat secara administratif, tetapi miskin inovasi institusional. Konflik dan peperangan internal bukan anomali, melainkan mekanisme berulang untuk mereset legitimasi kekuasaan.

Masuk abad ke-19, struktur lama ini menghadapi benturan modernitas yang brutal. Kekalahan dalam Perang Candu dan penetrasi imperialisme Barat membuka kelemahan fundamental negara kekaisaran: ketertinggalan teknologi, militer, dan ekonomi. Upaya reformasi seperti Self-Strengthening Movement gagal karena hanya menyentuh aspek teknis tanpa menyentuh fondasi institusional. Negara masih beroperasi dengan logika moral Konfusianisme, sementara dunia bergerak dengan logika industri, kapital, dan kekuatan militer modern. Krisis ini bukan sekadar kekalahan geopolitik, tetapi krisis epistemik: cara lama memahami dunia tidak lagi relevan.

Runtuhnya Dinasti Qing pada 1911 membuka fase baru berupa eksperimen republik dan demokrasi awal. Di bawah Sun Yat-sen dan Kuomintang, Tiongkok secara formal mengadopsi institusi modern: konstitusi, parlemen, dan konsep kewarganegaraan. Namun republik ini berdiri di atas fondasi rapuh. Negara belum memiliki kontrol teritorial penuh, birokrasi nasional

lemah, dan kekuasaan terfragmentasi ke tangan para warlord. Demokrasi hadir tanpa negara yang fungsional. Perang saudara yang berlarut-larut, ditambah invasi Jepang, memperlihatkan bahwa problem utama Tiongkok bukan ideologi politik, melainkan ketiadaan negara yang efektif.

Kemenangan Kamerad Mao

Dalam konteks kekacauan inilah Partai Komunis Tiongkok muncul sebagai kekuatan alternatif. Kemenangan Mao Zedong pada 1949 bukan semata kemenangan ideologi Marxis, tetapi kemenangan proyek pembangunan negara yang radikal. Mao berhasil menyatukan wilayah, menghancurkan elite lama, dan membangun kontrol politik terpusat. Namun Marxisme yang diterapkan bersifat revolusioner dan dogmatis, disesuaikan dengan masyarakat agraris yang jauh dari prasyarat material Marxisme klasik.

Kampanye seperti Great Leap Forward dan Cultural Revolution menunjukkan bagaimana ideologi ditempatkan di atas data dan rasionalitas ekonomi. Negara memang menjadi absolut, tetapi dengan biaya sosial dan ekonomi yang sangat besar.

Menjelang akhir era Mao, Tiongkok berdiri sebagai negara yang utuh secara politik, namun lumpuh secara ekonomi dan kelelahan secara ideologis. Revolusi telah selesai, tetapi pembangunan belum benar-benar dimulai. Dari titik inilah Tiongkok memasuki persimpangan sejarah—sebuah momen ketika ideologi tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan negara dan masyarakat. Di sinilah reformasi Deng Xiaoping akan mengambil peran sentral sebagai titik balik paling menentukan dalam sejarah Tiongkok modern.

Menjelang akhir kekuasaan Mao Zedong, Tiongkok berada dalam kondisi yang secara paradoks utuh sebagai negara, tetapi hancur sebagai sistem ekonomi dan sosial. Kebijakan Great Leap Forward (1958–1962) meninggalkan jejak kehancuran paling fatal: kelaparan massal yang oleh berbagai studi demografi diperkirakan menewaskan 20 hingga 40 juta jiwa, menjadikannya salah satu bencana buatan manusia terbesar dalam sejarah modern.

Produksi pertanian runtuh akibat kolektivasi ekstrem dan distorsi data, sementara negara menutup mata terhadap realitas di lapangan. Krisis ini belum selesai ketika Cultural Revolution (1966–1976) kembali melumpuhkan masyarakat: sistem pendidikan nyaris berhenti satu dekade, jutaan intelektual dipersekusi, dan birokrasi negara kehilangan kapasitas rasionalnya. Pada pertengahan 1970-an, PDB per kapita Tiongkok berada di bawah USD 200, lebih rendah dibanding banyak negara Afrika Sub-Sahara pada periode yang sama. Lebih dari 80% populasi hidup di pedesaan dalam kondisi miskin, dengan produktivitas stagnan dan insentif kerja nyaris nihil.

Marxisme versi Mao mungkin berhasil memobilisasi massa dan membangun kontrol politik total, tetapi ia gagal menyediakan kesejahteraan minimal. Ketika Mao wafat pada 1976, yang diwariskan bukanlah negara sosialis yang makmur, melainkan masyarakat yang lelah, miskin, dan trauma terhadap ideologi. Dalam kehampaan inilah muncul kebutuhan mendesak akan arah baru—bukan revolusi lanjutan, melainkan koreksi fundamental terhadap cara negara dijalankan. Dari titik inilah Deng Xiaoping mulai memainkan perannya.

Reformasi Kamerad Deng: Pragmatisme sebagai Jalan Keluar

Deng Xiaoping muncul bukan sebagai ideolog baru, melainkan sebagai korektor sejarah. Tidak seperti Mao, Deng tidak membangun legitimasi melalui karisma revolusioner atau purifikasi ideologi, melainkan melalui hasil nyata. Pengalamannya sebagai kader lama yang dua kali disingkirkan selama Cultural Revolution membentuk satu kesadaran mendasar: kekacauan ideologis bukan hanya tidak produktif, tetapi eksistensial berbahaya bagi negara. Ketika Deng secara de facto mengambil alih arah kebijakan pada akhir 1970-an, ia mewarisi negara dengan trauma politik mendalam, ekonomi nyaris kolaps, dan elite partai yang kehilangan kepercayaan terhadap dogma lama. Dalam kondisi ini, Deng tidak menawarkan revolusi lanjutan, melainkan rekonstruksi rasional terhadap cara negara bekerja.

Langkah intelektual pertama Deng adalah mendepolitisasi kebenaran. Melalui pernyataan terkenal bahwa “praktik adalah satu-satunya kriteria kebenaran,” Deng secara efektif memutus supremasi ideologi atas realitas. Ini adalah pergeseran epistemologis yang radikal dalam konteks negara komunis: kebijakan tidak lagi dinilai dari kesesuaiannya dengan teks Marxis, tetapi dari dampaknya terhadap produksi, kesejahteraan, dan stabilitas. Pernyataan lain yang sama penting bahwa “tidak peduli kucing hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus” menegaskan bahwa alat ekonomi tidak memiliki moral ideologis. Pasar, investasi asing, dan insentif material bukan lagi musuh sosialisme, melainkan instrumen netral yang bisa dimanfaatkan negara.

Reformasi Deng dimulai dari titik paling krusial: pertanian. Sistem komune yang selama era Mao menekan produktivitas dibongkar secara bertahap melalui Household Responsibility System. Petani kembali diberi hak mengelola hasil kerja mereka setelah memenuhi kewajiban negara. Dampaknya hampir instan. Antara 1978 dan 1984, produksi pertanian meningkat tajam, pendapatan petani hampir dua kali lipat, dan kelangkaan pangan berakhir. Keberhasilan ini bukan sekadar ekonomi, tetapi politis: ia membuktikan bahwa insentif bekerja lebih efektif daripada mobilisasi ideologis. Dari desa-desa inilah reformasi Deng mendapatkan legitimasi empiris pertamanya.

Keberhasilan awal tersebut membuka jalan bagi reformasi yang lebih berani di sektor industri dan perdagangan. Pembentukan Special Economic Zones seperti Shenzhen menjadi eksperimen terkontrol di mana logika pasar, investasi asing, dan fleksibilitas tenaga kerja diizinkan beroperasi dalam kerangka kontrol negara. Shenzhen yang pada akhir 1970-an hanyalah desa nelayan kecil—dalam dua dekade berubah menjadi pusat manufaktur dan teknologi dengan pertumbuhan ekonomi dua digit. Negara tidak menghilang; justru ia berperan sebagai arsitek pasar, bukan korban liberalisasi. Di titik ini, Marxisme tidak ditinggalkan, tetapi direduksi menjadi bahasa legitimasi, sementara praktik kebijakan sepenuhnya ditentukan oleh data dan kinerja.

Dari sini, jelas bahwa Deng Xiaoping tidak mengoreksi Mao dengan mengganti ideologi, melainkan dengan menundukkan ideologi pada kebutuhan negara. Reformasi yang ia lakukan bukanlah transisi menuju liberalisme Barat, tetapi pembentukan model baru: negara otoriter yang pragmatis, kapitalisme yang dikelola, dan legitimasi yang bersumber dari pertumbuhan ekonomi. Inilah fondasi Tiongkok modern psebuah negara yang berhenti bertanya apakah kebijakannya “sosialis” atau tidak, dan mulai bertanya apakah kebijakan itu berfungsi.

Pembelokan Komunisme dan Lahirnya Jalur Baru

Reformasi Deng Xiaoping menandai momen ketika komunisme Tiongkok berhenti menjadi tujuan ideologis dan mulai berfungsi sebagai kerangka kekuasaan yang fleksibel. Marxisme tidak lagi diperlakukan sebagai hukum besi sejarah, melainkan sebagai bahasa legitimasi politik yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan. Negara tetap dipimpin oleh Partai Komunis, tetapi logika pengelolaan ekonomi bergerak menjauh dari ortodoksi sosialis menuju eksperimen pasar yang dikontrol ketat. Inilah pembelokan fundamental: komunisme tidak ditinggalkan, tetapi dibentuk ulang menjadi sistem yang memungkinkan akumulasi modal, pertumbuhan produktivitas, dan integrasi global tanpa melepaskan kontrol politik. Dari titik ini, Tiongkok tidak lagi beroperasi sebagai negara revolusioner, melainkan sebagai negara pembangunan yang secara sadar dan bertahap mempersiapkan diri memasuki modernitas dengan caranya sendiri.

Transformasi Tiongkok pasca-Deng tidak berlangsung sebagai lompatan ideologis, melainkan sebagai proses panjang yang dirancang secara hati-hati. Negara belajar dari kegagalan masa lalu: perubahan radikal yang dipaksakan dari atas tanpa data dan institusi hanya melahirkan kekacauan. Karena itu, strategi pembangunan yang dipilih bersifat inkremental, eksperimental, dan terfragmentasi secara geografis. Reformasi tidak diterapkan serentak, tetapi diuji dalam ruang terbatas desa, kota, atau zona ekonomi khusus sebelum direplikasi secara nasional. Pendekatan ini mencerminkan satu sikap dasar yang konsisten: stabilitas politik tidak boleh dikorbankan demi kecepatan perubahan.

Fondasi utama pembangunan Tiongkok modern adalah perencanaan jangka panjang yang terpusat namun adaptif. Negara tetap memegang kendali arah melalui rencana lima tahunan, tetapi tidak lagi mengatur seluruh detail produksi seperti pada era Mao. Perencanaan berfungsi sebagai kompas strategis, sementara pelaksanaan di lapangan diberikan fleksibilitas tinggi kepada pemerintah daerah. Hubungan pusat–daerah menjadi instrumen penting: daerah didorong berkompetisi menarik investasi, meningkatkan output, dan bereksperimen dengan kebijakan, sementara pusat mengevaluasi hasilnya berdasarkan indikator konkret. Dengan cara ini, negara menciptakan mekanisme seleksi kebijakan berbasis kinerja, bukan kesetiaan ideologis.

Sikap dasar lain yang menjadi fondasi adalah prioritas absolut pada pembangunan ekonomi sebagai sumber legitimasi politik. Setelah trauma Cultural Revolution, Partai Komunis menyadari bahwa mobilisasi ideologis tidak lagi efektif. Legitimasi kekuasaan digeser dari retorika revolusi menuju peningkatan kesejahteraan material. Pendidikan dipulihkan, sains dan teknologi direhabilitasi, dan teknokrat diberi ruang lebih besar dalam pengambilan keputusan. Negara secara sadar membuka “tabir” teknologi modern: mengirim pelajar ke luar negeri, menyerap teknologi asing melalui investasi langsung, dan membangun kapasitas manufaktur domestik sebagai tahap awal industrialisasi.

Langkah-langkah menuju Tiongkok modern juga ditandai oleh integrasi selektif ke dalam sistem global. Tiongkok tidak membuka diri secara total, melainkan memilih sektor, wilayah, dan waktu yang dianggap aman bagi stabilitas nasional. Akses pasar global dimanfaatkan untuk akumulasi modal dan transfer teknologi, sementara sektor-sektor strategis tetap berada di bawah kontrol negara. Dengan strategi ini, Tiongkok membangun kekuatan industri dan teknologi tanpa kehilangan kedaulatan politik. Modernisasi, bagi Tiongkok, bukan imitasi Barat, melainkan proyek nasional yang dikendalikan negara.

Seluruh proses ini persiapan bertahap, perencanaan matang, disiplin institusional, dan pembelajaran dari luar membentuk cikal bakal Tiongkok seperti yang dikenal hari ini. Negara modern Tiongkok lahir bukan dari satu momen reformasi, tetapi dari akumulasi keputusan rasional selama puluhan tahun. Baru setelah fondasi ini kokoh, Tiongkok siap melangkah ke fase berikutnya: tampil sebagai kekuatan ekonomi dan teknologi global. Di titik inilah pembahasan tentang Tiongkok hari ini menjadi relevan bukan sebagai anomali sejarah, melainkan sebagai hasil logis dari strategi jangka panjang yang dimulai sejak reformasi Deng Xiaoping.

Grand Strategy dan Industrialisasi: Jalan Panjang Menuju Negara Teknologi

Sejak awal reformasi, kepemimpinan Tiongkok memahami bahwa modernisasi bukan sekadar persoalan pertumbuhan ekonomi jangka pendek, melainkan transformasi struktural jangka panjang. Karena itu, strategi nasional yang dibangun pasca-Deng beroperasi dalam horizon puluhan tahun, bukan siklus politik pendek. Grand strategy Tiongkok dapat dibaca sebagai upaya sistematis untuk menggeser negara dari ekonomi agraris miskin menuju kekuatan industri dan teknologi, melalui tahapan yang direncanakan, dikontrol, dan dievaluasi secara berkelanjutan. Negara tidak mengejar “loncatan besar” ala Mao, tetapi membangun tangga perkembangan yang dapat dinaiki secara stabil.

Tahap awal strategi ini berfokus pada industrialisasi berbasis tenaga kerja murah dan manufaktur ekspor. Pada 1980-an hingga 1990-an, Tiongkok secara sadar memosisikan diri sebagai “pabrik dunia”. Upah rendah, skala tenaga kerja masif, dan infrastruktur dasar yang terus dibangun menjadikan sektor manufaktur sebagai mesin utama pertumbuhan. Namun berbeda dari negara berkembang lain, industrialisasi ini tidak dilepas ke pasar sepenuhnya. Negara mengarahkan arus investasi asing langsung (FDI) ke sektor-sektor tertentu, mewajibkan transfer teknologi, dan menggunakan perusahaan milik negara sebagai jangkar stabilitas. Integrasi ke pasar global dimanfaatkan sebagai alat pembelajaran, bukan tujuan akhir.

Seiring meningkatnya kapasitas produksi, strategi nasional bergerak ke fase kedua: akumulasi teknologi dan peningkatan nilai tambah. Pemerintah menyadari risiko jebakan pendapatan menengah ketergantungan permanen pada manufaktur murah tanpa inovasi. Karena itu, sejak akhir 1990-an dan awal 2000-an, kebijakan industri mulai diarahkan pada penguasaan teknologi kunci: mesin, elektronik, telekomunikasi, dan energi. Investasi besar-besaran dilakukan pada pendidikan tinggi, riset, dan pelatihan teknis. Jumlah insinyur dan lulusan STEM meningkat tajam, sementara negara secara aktif menyerap pengetahuan dari luar melalui joint venture, lisensi, dan pembelian perusahaan asing.

Grand strategy Tiongkok juga ditopang oleh perencanaan negara yang konsisten namun fleksibel. Rencana Lima Tahun tidak lagi berfungsi sebagai alat kontrol mikro, melainkan sebagai kerangka strategis untuk menentukan sektor prioritas. Teknologi informasi, transportasi, energi, dan kemudian teknologi digital menjadi fokus bertahap. Pemerintah pusat menetapkan target, sementara pemerintah daerah diberi insentif kuat untuk mencapainya melalui kompetisi performa. Mekanisme ini menciptakan apa yang dapat disebut sebagai authoritarian meritocracy: keberhasilan ekonomi dan industrialisasi menjadi dasar promosi elite birokrasi.

Memasuki dekade 2010-an, strategi teknologi Tiongkok memasuki fase yang lebih ambisius: transisi dari imitasi menuju inovasi. Program seperti Made in China 2025 mencerminkan keinginan negara untuk menguasai rantai nilai tertinggi robotika, semikonduktor, kecerdasan buatan, bioteknologi, dan kendaraan listrik. Pada tahap ini, negara tidak lagi puas menjadi konsumen teknologi global, melainkan ingin menjadi produsen standar dan penentu arah. Peran negara kembali menguat, bukan sebagai penghambat pasar, tetapi sebagai investor strategis, pelindung industri nasional, dan koordinator skala besar.

Penting dicatat bahwa seluruh lintasan ini dibangun di atas kesabaran strategis. Tidak ada asumsi bahwa keterbukaan ekonomi otomatis menghasilkan kekuatan nasional. Sebaliknya, keterbukaan diperlakukan sebagai fase sementara dalam proses penguatan internal. Teknologi modern “dibuka tabirnya” secara selektif: dipelajari, diserap, dan kemudian dikembangkan ulang dalam kerangka nasional. Di sinilah Tiongkok berbeda dari banyak negara berkembang lain—ia tidak menyerahkan masa depannya pada pasar global, tetapi menggunakan pasar global untuk membangun kapasitas domestik.

Dengan demikian, industrialisasi dan kemajuan teknologi Tiongkok bukanlah keajaiban spontan, melainkan hasil dari grand strategy negara pembangunan yang dijalankan secara konsisten lintas generasi kepemimpinan. Dari manufaktur murah menuju ekonomi berbasis teknologi, dari ketergantungan menuju otonomi relatif, Tiongkok bergerak melalui tahapan yang jelas dan terencana. Di titik inilah kita dapat mulai memahami Tiongkok hari ini: bukan sebagai anomali ideologis, tetapi sebagai produk dari perencanaan jangka panjang yang memadukan kontrol politik, pasar, dan teknologi dalam satu proyek nasional.

Bersambung