Oleh: Riskal Arief (Anggota Delegasi Indonesia)
Hari ini menjadi momentum penting bagi Indonesia di forum internasional ketenagakerjaan. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli dijadwalkan akan menyampaikan pidato resmi mewakili Pemerintah Indonesia di forum International Labour Conference (ILC) ke-113 yang digelar oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) di Jenewa, Swiss.

Pidato ini menjadi salah satu sorotan utama karena akan membawa posisi Indonesia terhadap berbagai isu ketenagakerjaan global yang tengah berkembang.
Tak hanya Menaker, dua unsur penting lainnya dari delegasi tripartit Indonesia—yakni unsur pekerja dan pengusaha—juga dijadwalkan untuk berbicara pada hari yang sama di forum ILC tersebut. Kehadiran mereka mencerminkan semangat kolaboratif dan semangat dialog sosial antara pemerintah, pekerja, dan pengusaha, yang menjadi prinsip dasar ILO.
Perwakilan dari kalangan pekerja akan diwakili oleh tokoh senior perburuhan nasional, M. Djumhur Hidayat, yang juga menjabat sebagai Ketua Delegasi Indonesia. M. Djumhur dijadwalkan menyampaikan pandangannya di hadapan forum ILC mengenai berbagai isu krusial yang menjadi perhatian global sekaligus berdampak signifikan terhadap dunia ketenagakerjaan Indonesia.
Dari informasi yang diterima, M. Djumhur akan menyoroti secara khusus perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi berbasis platform digital, serta implikasinya terhadap hak-hak pekerja dan masa depan pekerjaan. Selain itu, ia juga akan membahas isu bahaya biologis serta pentingnya peningkatan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3), yang semakin relevan pasca pandemi global.
Tidak hanya itu, Djumhur juga akan membahas amandemen Maritime Labour Convention (Konvensi Perburuhan Maritim) yang baru disahkan dan sangat relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan sektor pelaut dan kelautan yang besar. Sikap Indonesia terhadap isu ini akan mencerminkan komitmen terhadap perlindungan hak-hak pelaut dan pekerja sektor maritim secara lebih luas.
Menariknya, seluruh delegasi Indonesia yang hadir dalam forum ILC hari ini menunjukkan kekompakan dalam berbusana. Mereka serentak mengenakan batik sebagai identitas nasional. Penggunaan batik bukan hanya bentuk ekspresi budaya, tetapi juga simbol persatuan dan kebanggaan bangsa di panggung internasional.
Partisipasi aktif Indonesia dalam forum ILC ke-113 ini sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang terus mendorong terciptanya keadilan sosial bagi seluruh pekerja.
Dengan isu-isu yang diangkat, delegasi Indonesia menunjukkan keseriusan dalam merespons dinamika global dunia kerja secara inklusif, berdaya saing, dan tetap berakar pada nilai-nilai nasional (*)







