Jakarta,SwaraRakyat – Cucu proklamator Mohammad Hatta, Gustika Jusuf Hatta, memberikan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya @gustikajusuf terkait banyaknya permintaan warganet untuk update aksi demonstrasi yang belakangan ramai di berbagai daerah.
Dalam unggahan “memories” tertanggal 31 Agustus 2025, Gustika menegaskan bahwa dirinya sudah tidak lagi aktif bekerja langsung di organisasi masyarakat sipil sejak tiga tahun terakhir. Meski begitu, ia tetap menaruh perhatian pada isu kemanusiaan, hak asasi manusia, dan supremasi sipil sebagai prinsip hidupnya.
“Aku merasa penting untuk tetap berbagi dan meningkatkan awareness lewat platformku yang tiba-tiba membesar. Namun aku tidak bisa memikul tanggung jawab sebagai sumber informasi utama paling up-to-date. Aku saat ini lagi jadi mba-mba ngantor 9-to-5, guuys,” tulis Gustika.
Ia menekankan bahwa dirinya bukan buzzer, apalagi menerima bayaran dari negara. Sebaliknya, menurutnya, ia berusaha tetap kritis agar bisa menjadi warga negara yang baik.
“Contrary to apa kata buzzer, saya juga dapat allowance dari Negara (ga minta juga). Naik babe gue ngasihnya pendidikan, supaya bisa jadi warga negara yang baik di Republik ini,” ujarnya.
Gustika juga menyinggung kasus kriminalisasi terhadap salah satu direktur lembaga HAM terkemuka yang aktif turun langsung memberi bantuan hukum di lapangan. “Jahat banget Negara,” tulisnya. Ia kemudian mengarahkan publik untuk merujuk ke lembaga-lembaga resmi seperti KontraS, Imparsial, YLBHI, hingga Lokataru Foundation untuk mendapatkan informasi dan panduan aksi yang lebih valid serta ter-update.
“Aku bukan source ter-update. Pertanyaan/laporan bisa dilayangkan ke lembaga-lembaga yang aku sebut di atas. Do check my highlights, though,” tegasnya.
Unggahan ini menjadi sorotan publik karena memperlihatkan dilema generasi muda aktivis yang kini bekerja di birokrasi, namun tetap menjaga komitmen pada nilai kemanusiaan dan hak sipil. Dalam fitur Instagram stories, Gustika juga melontarkan kritik terhadap Presiden Prabowo terkait kematian tragis Affan Kurniawan, driver ojek online (ojol) yang dilindas kendaraan rantis Brimob.
Menurut Gustika, pernyataan Presiden Prabowo cenderung menyesatkan rakyat karena mengaburkan tanggung jawabnya sebagai Kepala Negara.
“DPR dan Polisi/Brimob memang salah, tapi bukan berarti presiden enggak bisa berbuat apa-apa soal itu. Presiden memegang kekuasaan tertinggi negara, di mana Polisi/Brimob berada di bawah komandonya. Jadi tragedi kemarin juga merupakan tanggung jawab Presiden,” katanya dikutip dari Tribunnews.com.
Tak hanya itu, Gustika menyoroti hubungan antara DPR dan Presiden. Meski secara struktur DPR bukan bawahan presiden, mayoritas kursi DPR saat ini diisi partai koalisi pendukung pemerintah.
“Soal DPR, mereka memang legislatif, bukan bawahan presiden. Tapi, jangan lupa kalau mayoritas kursi DPR diisi sama koalisi pendukungnya dan hubungan mereka kayak bos dan partner. Banyak kebijakan kontroversial yang awalnya justru dari presiden dan di-ACC. Jadi kalau rakyat marah soal kebijakan, jelas bukan cuma salah DPR saja, Presiden juga ikut bertanggung jawab penuh,” lanjut Gustika.
Unggahan Gustika Jusuf Hatta ini menegaskan posisi kritis generasi muda aktivis yang kini bekerja di birokrasi, sekaligus menunjukkan kesadaran penuh tentang tanggung jawab negara dalam tragedi dan kebijakan publik.(sang)











