Opini  

Idul Adha Yang Istimewa di Jenewa.

Foto: Delegasi Indonesia Dalam Sidang International Labour Conference (ILC) ke-112 ILO

Oleh: Riskal Arief (Anggota Delegasi Indonesia Dalam Sidang International Labour Conference (ILC) ke-112)

Pagi ini, udara Jenewa masih sejuk ketika satu per satu anggota delegasi Indonesia datang ke halaman Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI). Langit biru sedikit mengintip di balik awan mendung yang membentang di atas Swiss, dan takbir berkumandang lembut dari pengeras suara.

Hari ini adalah Idul Adha 1446 Hijriah, dan di tengah kesibukan menghadiri sidang International Labour Conference (ILC) ke-112, para utusan Indonesia berkumpul untuk menunaikan salat Idul Adha bersama. Salat Id yang dilaksanakan di halaman PTRI Jenewa ini dihadiri oleh para tokoh penting.

Duta Besar/Wakil Tetap RI untuk PBB dan organisasi internasional lainnya di Jenewa, Achsanul Habib, menyambut hangat kehadiran para delegasi. Tak ketinggalan, M. Djumhur Hidayat, ketua delegasi dari unsur serikat pekerja, turut hadir, mengenakan pakaian batik khas Indonesia.

Wamenaker Immanuel Ebenezer menyusul hadir saat ramah tamah. Dalam sambutannya, Bang Noel-panggilan akrab Immanuel Ebenezer-hari ini terasa sangat istimewa. Bukan hanya karena Idul Adha adalah hari besar bagi umat Islam, tetapi juga karena pada hari sebelumnya, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) resmi mengadopsi sebuah konvensi penting yang selama ini diperjuangkan oleh banyak negara, termasuk Indonesia — konvensi tentang perlindungan bagi pekerja digital berbasis platform.

Bagi delegasi Indonesia, ini bukan sekadar pencapaian teknokratik, melainkan bentuk nyata dari perjuangan moral dalam era ketenagakerjaan yang kian kompleks.

Dan seolah belum cukup istimewa, kabar baik lain datang dari tanah air.

Tim nasional Indonesia baru saja mencatat kemenangan membanggakan atas tim kuat Tiongkok dalam laga persahabatan. “Ini hari kemenangan dari segala sisi,” ucap Immanuel dengan senyum lebar. “Kemenangan spiritual, kemenangan perjuangan kelas pekerja, dan kemenangan olahraga yang membakar semangat nasional.”

Selesai melaksanakan salat dan berdoa bersama, para anggota delegasi melanjutkan kegiatan dengan ramah-tamah sederhana di halaman PTRI. Di tengah lezatnya hidangan, hangatnya teh, kue lebaran, dan perbincangan ringan, terselip semangat yang tak main-main.

Tak lama berselang, rombongan pun bersiap menuju Gedung PBB untuk melanjutkan tugas diplomasi.

Hari itu, agenda utama di forum ILO masih berfokus pada isu “digital platform labour”.

Sebuah topik yang tidak hanya sedang hangat, tetapi juga menentukan arah masa depan jutaan pekerja di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Perwakilan Indonesia dari unsur pemerintah, pengusaha, dan pekerja hadir aktif dalam perdebatan, menyampaikan posisi nasional, serta mendorong agar hak-hak pekerja digital tidak tertinggal dalam kerangka perlindungan internasional.

Dalam ruang-ruang diplomasi yang megah itu, semangat Iduladha seperti ikut menyelinap. Nilai-nilai pengorbanan, keadilan sosial, dan solidaritas menjadi bahanDelegasi Indonesia Dalam Sidang International Labour Conference (ILC) ke-112 ILO bakar perjuangan para delegasi. Mereka datang bukan hanya membawa dokumen dan argumentasi, tetapi juga semangat dari tanah air — semangat untuk memperjuangkan martabat manusia dalam dunia kerja yang kian berubah cepat.

Idul Adha tahun ini di Jenewa bukan hanya tentang doa dan ibadah. Ia juga menjadi panggung kecil yang mempertemukan spiritualitas dan diplomasi, pengorbanan dan kebijakan, doa dan perjuangan. Dari halaman PTRI hingga podium PBB, suara Indonesia menggema — bukan hanya sebagai negara, tetapi sebagai bangsa yang peduli dan berdiri tegak bersama para pekerjanya. (***)