Cirebon, Swararakyat.com – Warga Cirebon dikejutkan oleh kemunculan bola api di langit yang disertai suara dentuman keras pada Sabtu malam (4/10). Fenomena langka itu menimbulkan kepanikan di sejumlah wilayah, sebelum akhirnya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bahwa benda bercahaya tersebut kemungkinan besar adalah meteor yang jatuh di Laut Jawa.
Sejumlah warga di Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, mengaku melihat cahaya terang melintas cepat di langit sebelum terdengar suara menggelegar dari arah utara. “Langit tiba-tiba terang seperti petir, lalu terdengar suara ‘duuum’ cukup keras,” ujar Andri, salah satu warga setempat, Minggu (5/10).
Menanggapi laporan tersebut, peneliti BRIN, Prof. Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis awal dari kesaksian warga dan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena tersebut adalah meteor berukuran cukup besar yang memasuki atmosfer di atas wilayah Kuningan–Cirebon, kemudian jatuh di Laut Jawa.
“Dari lintasannya, benda langit itu tidak jatuh di daratan Cirebon, tetapi kemungkinan besar di laut, sehingga tidak ditemukan puing di permukaan tanah,” jelas Thomas Djamaluddin dalam keterangannya.
Sementara itu, BMKG Stasiun Kertajati juga melakukan pemantauan terhadap data getaran dan kondisi atmosfer saat peristiwa terjadi. Hasil awal menunjukkan tidak ada aktivitas meteorologis ekstrem seperti petir atau badai yang dapat menyebabkan cahaya terang tersebut. Data seismik juga mencatat sinyal lemah, bukan getaran khas gempa bumi.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon mengatakan pihaknya turut menerima sejumlah laporan warga soal suara dentuman dan getaran kaca, namun hingga kini belum ada laporan kerusakan akibat peristiwa itu.
Fenomena bola api di langit Cirebon sempat viral di media sosial, dengan beberapa video warga yang merekam cahaya putih kebiruan melintas cepat di angkasa. BRIN mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan menyerahkan verifikasi fenomena tersebut kepada lembaga resmi.
“Fenomena ini alami dan biasa terjadi, meski jarang disaksikan langsung oleh masyarakat. Kami terus memantau data dari berbagai sumber untuk memastikan lintasan dan titik jatuh meteor tersebut,” tambah Thomas.
Hingga kini, BRIN dan BMKG masih melakukan analisis lanjutan berdasarkan data satelit dan sensor atmosfer untuk memastikan kecepatan serta arah jatuhnya meteor. Tidak ada indikasi bahaya lanjutan bagi masyarakat. (*)













