Tokoh  

Misteri Kuli Bangunan Kudus: Penulis 100 Kitab dan Raih MUI Awards

KUDUS, SWARARAKYAT.COM — Di tengah maraknya budaya memamerkan pencapaian di media sosial, sebuah kisah inspiratif datang dari pelosok Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Seorang pria bersahaja yang sehari-harinya bekerja kasar sebagai kuli bangunan dan buruh tani, ternyata merupakan seorang peneliti manuskrip Islam klasik (mutaqaddimin) bereputasi internasional.

Pria tersebut adalah Supriyanto, atau yang akrab disapa Mbah Riyan. Berasal dari Desa Wates, Kecamatan Undaan, Mbah Riyan menggunakan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi dalam dunia literasi Islam. Hingga kini, ia telah meneliti, menyunting, dan melakukan tahqiq (verifikasi keotentikan teks) pada lebih dari 100 kitab keislaman bernilai ilmiah tinggi.

Baca Juga: Ibu Aktif, Kulit Positif! PKK Tuban Makin Percaya Diri Bareng Superskin

Lulusan Terbaik LIPIA dan Peneliti Kaliber Dunia

Meski kini bergelut dengan semen dan cangkul, Mbah Riyan bukanlah sosok biasa. Ia merupakan lulusan terbaik Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta angkatan 2013. Berkat kecerdasan akademiknya yang luar biasa, ia bahkan pernah mendapatkan hadiah haji gratis.

Salah satu karya terbesarnya adalah melakukan tahqiq mendalam terhadap Kitab Fathul Mu’in. Untuk menemukan teks yang paling otentik, Mbah Riyan membandingkan tujuh naskah cetak dan satu manuskrip kuno. Karya-karya suntingannya tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga diterbitkan hingga ke Mesir dan menjadi rujukan akademisi internasional.

Baca Juga: Benarkah Tarif Pajak Indonesia Paling Kejam Dibanding Negara Lain?

Memilih Jalan Sunyi dan Menolak Popularitas

Sekembalinya ke kampung halaman pada tahun 2018, Mbah Riyan memilih untuk menjalani kehidupan yang sangat low profile. Ia tak menonjolkan gelar maupun kehebatannya di dunia akademis, melainkan memilih bekerja serabutan sebagai kuli bangunan demi menyambung hidup.

Atas dedikasinya yang luar biasa dalam literasi Islam, Majelis Ulama Indonesia mengganjarnya dengan penghargaan bergengsi MUI Award 2026 untuk kategori Karya Tulis Keislaman pada Juli 2026.

Namun, konsistensinya dalam menjaga keikhlasan kembali teruji. Ketika panitia menghubungi untuk mengundangnya ke Jakarta guna menerima penghargaan tersebut, Mbah Riyan secara halus menolak hadir. Ia memilih tetap berada di desanya dan melanjutkan rutinitas harinya tanpa hiruk-pikuk panggung apresiasi.

Kisah Mbah Riyan menjadi tamparan halus sekaligus refleksi mendalam bagi masyarakat modern: bahwa ilmu yang bermanfaat dan karya besar tak selalu membutuhkan panggung riuh, melainkan ketulusan yang bekerja diam-diam dalam keheningan.(Red)