Pejabat Joget, Rakyat Nangis, 17-an Ala Gustika Hatta : Berkabung Biar Bangsa Jangan Amnesia

Jakarta,SwaraRakyat – Kalau biasanya 17-an identik sama bendera merah putih, lomba balap karung, dan baju merah-meriah ala vibes “Merdeka Ceria”, lain cerita dengan Gustika Jusuf Hatta, cucu Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta.

Di momen sakral HUT ke-80 RI, Gustika malah hadir dengan kebaya hitam yang dipadu sama batik slobog—kain Jawa yang biasanya dipakai buat acara duka. “Kalau bukan Kamisan, pagi ini aku pilih kebaya hitam + batik slobog buat 80 tahun kemerdekaan,” tulisnya di IG.

Bukan asal gaya, ini bukan outfit of the day (OOTD), tapi outfit of the resistance. Slobog itu dalam tradisi Jawa dipakai di pemakaman, artinya doa buat jalan lapang yang berpulang. Nah, Gustika maknai itu sebagai simbol protes diam. Katanya, bahkan mungkin mau dipakai lima tahun ke depan. Jadi bukan sekadar baju, tapi pesan keras.

Fashion Jadi Kritik HAM

Dengan busana itu, Gustika nyindir keras kondisi bangsa. “Sekarang kita dipimpin Presiden penculik dan penjahat HAM, ditemani Wakil anak haram konstitusi. Militerisasi makin masuk ke ruang sipil, hak rakyat makin dilucuti,” tulisnya pedas.

Ia juga sebut tragedi terbaru di Pati, di mana aparat bikin rakyat jadi korban. “Jujur nggak sampai hati rayain kemerdekaan kalau tiap hari ada cerita rakyat ditindas.”

Berkabung Bukan Baper

Meski tampil ala vibes duka, Gustika bilang itu bukan tanda putus asa. Justru bentuk cinta. “Berkabung lahir dari cinta. Merayakan bukan berarti nutup mata, berkabung bukan berarti patah asa,” tulisnya.

Intinya, Gustika ingin bilang: kadang duka itu cara paling tulus buat jaga ingatan, supaya sejarah nggak dibikin amnesia oleh penguasa.

Sentil Pejabat Joget

Penutupnya? Tetep khas anak sekarang—nyindir pejabat dengan gaya savage. “Swipe ke slide terakhir buat liat pejabat + menteri HAM (ironic banget) lagi joget di atas penderitaan rakyat,” tulisnya. Jadi, kalau yang lain 17-an sibuk lomba makan kerupuk, Gustika justru ngajak mikir: udahkah kita benar-benar merdeka? (sang)