Penulis: Harbiansis
Jakarta,SwaraRakyat – Sore itu, udara terasa tebal. Suara teriakan demonstran bercampur sirine dan gas air mata. Jalanan yang biasanya ramai kini berubah menjadi arena ketakutan. Di tengah itu semua, Affan Kurniawan, anak muda yang sehari-hari menghidupi keluarganya dengan mengendarai ojek online, melaju pelan dengan sepeda motornya.
Ia bukan peserta demo. Ia hanyalah tulang punggung keluarga—ayah, ibu, kakak, adik—yang hidup sederhana dan selalu bergantung padanya. Malam itu, Affan baru saja mengantarkan pesanan makanan. Di kepalanya hanya satu hal: pulang, menatap senyum ibunya, dan membayangkan suatu hari bisa membelikan rumah kecil untuk keluarganya.
Namun, nasib menukik tajam tanpa peringatan. Dalam kekacauan yang makin liar, rantis Brimob melaju membelah kerumunan. Affan tidak sempat mengelak. Tubuhnya yang kecil terlindas. Dunia seketika menjadi sunyi. Tak ada teriakan, tak ada pertolongan—hanya duka yang membekas.
Di rumah kosnya di Menteng, kabar itu sampai. Tangisan pecah. Ayah dan ibunya menjerit, tak percaya anak yang mereka banggakan kini telah pergi. Senyum hangatnya, sentuhan lembutnya pada adik, ciuman di tangan ibu—semua itu hilang seketika, meninggalkan kehampaan.
Affan adalah cermin pahit bagi negeri ini. Di tengah ketimpangan ekonomi, harga-harga yang melambung, dan janji politik yang sering jauh dari realita, nyawa anak muda seperti Affan mudah hilang, nyaris tanpa jejak. Ia bukan hanya korban demo; ia korban sistem yang menutup mata pada mereka yang paling lemah.
Namun, ada secercah harapan dari tragedi itu. Presiden dan Kang Dedi Mulyadi memastikan keluarga Affan mendapatkan perlindungan dan dukungan agar cita-citanya—agar adiknya bisa sekolah tinggi dan hidup keluarga lebih layak—tidak sia-sia. Motor yang hilang diganti, bantuan mengalir, tapi tak ada yang bisa menggantikan kehilangan seorang anak yang penuh bakti.
Selamat jalan, Affan Kurniawan. Dunia mungkin terlalu kejam, tapi semangatmu tetap hidup. Kisahmu kini menjadi suara yang berbisik di hati setiap orang: betapa pentingnya merasakan penderitaan sesama, sebelum terlambat.













