Taput – Swararakyat.com | Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Pemdes) di Kabupaten Taputanuli Utara, mengakui sekitar 200 desa melaksanakan program Sistem Informasi Desa (SID) pada tahun 2019, dengan anggaran yang dialokasikan dari dana desa.
Namun sumber dari beberapa pimpinan desa menyebutkan bahwa Fungsi SID sepertinya belum ada dan meskipun anggaran dana desa yang dialokasikan untuk kegiatan ini cukup besar, namun rata-rata setiap desa harus menganggarkan minimal Rp 13 juta untuk kegiatan ini.
Sedangkan yang aktif dalam program SID hanyalah pelatihan bagi operator di pedesaan, mengunduh aplikasi dan menerima unit modem dari perusahaan penyedia barang dan jasa.
“Kegiatannya saat itu melatih operator yang ada di desa, mengunduh aplikasi lalu menerima modem dari pengusaha. Dan langsung membayar tunai,” kata seorang kepala desa yang enggan disebutkan namanya.
Menanggapi hal tersebut, pegiat kontrol sosial Taput, Eduard Jp saat diminta tanggapannya menduga kegiatan program SID adalah fiktif atau tidak diketahui pelaksanaan kerjanya.
Dikatakan berdasarkan informasi dari berbagai literatur, komponen utama berbasis teknologi harus disediakan oleh perusahaan penyedia barang dan jasa berupa data, perangkat keras, perangkat lunak, dan peralatan jaringan.
Menurut Eduard, yang dimaksud dengan perangkat keras adalah komputer, printer, dan perangkat lain yang mendukung pengolahan data, sedangkan perangkat lunak berupa aplikasi.
Pada saat yang sama, pihak desa mendapat fakta di lapangan dan pengakuan beberapa kepala desa bahwa kegiatan program SID Taput hanya berupa pelatihan, penyediaan aplikasi dan modem.
Dengan menganalisa kegiatan program SID Taput dan besaran anggaran yang digunakan, Eduard menyimpulkan bahwa kegiatan tersebut bersifat mark-up. Pasalnya, perusahaan tidak memiliki komponen hardware pendukung.
Bahkan patut kita curigai bahwa rencana SID ini hanyalah sebuah fiksi belaka, karena pihak desa tidak paham atau mengerti untuk apa fungsi SID .
“Komponen utama SID adalah komputer, printer, termasuk wifi dan aplikasi. Sementara itu, kami mendapat fakta bahwa perusahaan hanya memasok modem, sehingga diduga di-flag,” kata Eduard.(Norris H)













