Tanker China Mendadak Putar Balik di Selat Hormuz, Bawa Minyak Iran? Ini Fakta Terbarunya

Foto: Ilustrasi (Dok. Reuters)

Timur Tengah, Swararakyat.com –  Ketegangan di jalur energi dunia kian memanas. Sejumlah kapal tanker yang terafiliasi dengan China dilaporkan mendadak putar balik saat melintasi Selat Hormuz, menyusul kebijakan blokade yang diterapkan oleh Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan Reuters pada 13–15 April 2026, sedikitnya beberapa kapal dagang dan tanker memilih menghentikan perjalanan bahkan berbalik arah akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut. Situasi ini diperkuat oleh laporan The Wall Street Journal (15 April 2026) yang mengungkap satu kapal tanker bernama Rich Starry yang masuk daftar sanksi AS, terpantau berbalik arah saat mencoba keluar dari Teluk.

Pergerakan tidak biasa ini memicu spekulasi kuat terkait muatan kapal. Sumber industri pelayaran menyebut, mayoritas tanker di jalur tersebut mengangkut minyak mentah (crude oil) dan kondensat, komoditas utama dari kawasan Teluk. Bahkan, dalam sejumlah kasus, muatan diduga berasal dari Iran yang selama ini menjadi target sanksi Washington.

Tak hanya itu, data Reuters sebelumnya (11–14 April 2026) juga mengungkap bahwa kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz umumnya membawa minyak dari Irak dan Arab Saudi dengan kapasitas mencapai jutaan barel dalam satu perjalanan. Artinya, setiap gangguan di jalur ini berpotensi mengguncang pasokan energi global.

Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai “urat nadi” distribusi minyak dunia. Sekitar 20 persen pasokan energi global melewati jalur sempit ini setiap hari. Tak heran, ketika kapal mulai berbalik arah, pasar langsung bereaksi dan kekhawatiran akan lonjakan harga minyak kembali mencuat.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak China terkait insiden tersebut. Namun para analis menilai, keputusan putar balik bukan tanpa alasan. Risiko penahanan kapal, inspeksi militer, hingga ancaman eskalasi konflik menjadi faktor utama di balik langkah tersebut.

Blokade yang mulai diberlakukan sejak 13–14 April 2026 disebut menjadi titik balik meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. Dampaknya kini mulai terasa, bukan hanya bagi negara produsen, tetapi juga bagi negara konsumen besar seperti China.

Situasi di Selat Hormuz masih terus berkembang. Dunia kini menanti, apakah ini hanya manuver sementara atau justru awal dari krisis energi global yang lebih besar. (ESH)