Gaza, Swararakyat.com – Malam di Gaza semakin sunyi, tetapi tidak pernah benar-benar tenang. Di kawasan Nasser, Kota Gaza, ribuan keluarga berkemas dalam gelap, menjejalkan apa yang bisa mereka bawa ke truk, gerobak, bahkan sepeda motor. Di langit, selebaran dari militer Israel jatuh seperti hujan, membawa pesan yang menakutkan: “Pergilah sekarang, sebelum terlambat.”
Bagi Abu Ahmed, seorang ayah lima anak, pesan itu bukan sekadar peringatan tetapi vonis.
“Sudah hampir dua tahun, tanpa istirahat, tanpa ketenangan, bahkan tanpa tidur,” katanya dengan suara bergetar.
“Kami tidak bisa lagi duduk bersama anak-anak hanya untuk bernapas dengan tenang. Hidup kami hanya tentang perang, lari, dan kehilangan.”
Eksodus yang Tak Pernah Usai
Israel mengumumkan akan memperluas operasi daratnya di Gaza barat, menyusul serangkaian serangan udara yang telah menewaskan 18 orang hanya dalam satu hari termasuk dua yang sedang mencari makanan di dekat Rafah.
Tank-tank Israel telah merangsek ke permukiman Shejaia, Zeitoun, Tuffah, dan Sheikh Radwan, mengklaim kini menguasai 40% Kota Gaza. Militer menyebut telah menghantam 360 target dalam semalam, termasuk terowongan, pusat komando, dan posisi penembak jitu Hamas.
Namun, bagi warga sipil, angka itu hanya berarti satu hal: tidak ada tempat yang benar-benar aman.
Ketakutan Kolektif
“Ke mana lagi kami harus pergi?” tanya Umm Fadi, seorang ibu yang memeluk erat bayinya saat berdiri di reruntuhan rumahnya. “Kami sudah pindah tiga kali. Di sini kami bisa mati, di tempat lain kami juga bisa mati.”
Di sepanjang jalan menuju selatan, pemandangan memilukan terlihat: anak-anak kelelahan tertidur di atas gerobak, orang tua membawa kantong plastik berisi roti sisa, dan keluarga berjalan di bawah langit yang sesekali diterangi ledakan
Fase Baru yang Menakutkan
Militer Israel menyatakan ini adalah bagian dari “fase operasi selanjutnya” untuk melumpuhkan kemampuan Hamas. Tetapi bagi penduduk Gaza, fase baru ini terasa seperti neraka yang semakin mendekat.
“Setiap kali mereka bilang ‘fase baru’, berarti ada lebih banyak kematian,” kata seorang relawan medis yang baru saja kembali dari lokasi serangan di kamp pengungsi Pantai. “Kami kehabisan kantong jenazah. Kami hanya membungkus tubuh dengan kain.”
Eksodus besar-besaran diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Namun, tanpa jaminan keamanan, perjalanan itu bisa menjadi sama mematikannya dengan tetap tinggal. (*)











