Israel dan Hamas Resmi Mulai Gencatan Senjata Tahap Pertama di Gaza

Foto: Reuters

Yarusalem, Swararakyat.com — Israel dan kelompok Hamas resmi memulai gencatan senjata tahap pertama di Jalur Gaza pada Kamis (9/10) pukul 09.00 GMT atau 16.00 WIB, setelah kedua pihak menandatangani kesepakatan yang difasilitasi Amerika Serikat dengan dukungan Mesir, Qatar, dan Turki.

Kesepakatan ini menandai berakhirnya pertempuran sengit yang berlangsung hampir dua tahun dan menjadi bagian dari rencana perdamaian yang sebelumnya diusulkan mantan Presiden AS Donald Trump.

Menurut laporan Reuters dan The Guardian, gencatan senjata ini mencakup penghentian total serangan militer, penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Gaza, serta pembukaan jalur kemanusiaan untuk bantuan dan evakuasi warga sipil.

Sebagai bagian dari perjanjian, Hamas akan membebaskan sejumlah sandera Israel dalam waktu 72 jam, sementara Israel akan melepaskan ratusan tahanan Palestina, termasuk beberapa tokoh politik. Bantuan kemanusiaan juga mulai disalurkan melalui perbatasan Rafah dengan Mesir, dengan sekitar 400 truk bantuan diperkirakan masuk setiap harinya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut kesepakatan ini sebagai “langkah awal yang sulit namun penting menuju stabilitas.” Sementara itu, perwakilan Hamas menegaskan bahwa meskipun gencatan senjata telah dimulai, mereka akan “tetap setia pada perjuangan rakyat Palestina.”

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyambut baik kesepakatan tersebut dan menyerukan agar kedua pihak mematuhi komitmen yang telah disepakati, termasuk pembebasan sandera dan jaminan akses penuh bagi bantuan kemanusiaan.

Namun, sejumlah pengamat memperingatkan bahwa tantangan besar masih menanti, termasuk proses ratifikasi penuh oleh kabinet Israel, pengawasan internasional, dan potensi pelanggaran di lapangan. Sejumlah pihak juga menekankan pentingnya program rekonstruksi Gaza untuk memastikan perdamaian yang berkelanjutan.

Kesepakatan ini menjadi momentum penting setelah serangkaian upaya gencatan senjata sebelumnya gagal bertahan lama. Dunia kini menantikan apakah langkah terbaru ini dapat membuka jalan menuju berakhirnya konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina. (*)