Jakarta, Swararakyat.com – Dalam sejarah politik Indonesia, tidak banyak pasangan calon yang mampu memadukan elektabilitas kuat dengan kredibilitas kebijakan secara seimbang. Salah satu yang paling menonjol adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono pada Pemilu 2009. Kombinasi antara pemimpin berlegitimasi publik tinggi dan teknokrat berintegritas menghasilkan kemenangan telak serta stabilitas pemerintahan yang relatif terjaga.
Dua dekade berlalu, pola serupa muncul kembali dalam dinamika Pilpres 2029. Kombinasi Prabowo Subianto dan Purbaya Yudhi Sadewa dinilai Fredi Moses Ulemlem, pengamat hukum dan politik, sebagai formasi yang tidak sekadar kompetitif, tetapi juga selaras dengan kecenderungan pemilih yang kini semakin rasional dan berorientasi pada stabilitas kebijakan.
Pemilu 2009 menjadi momentum ketika SBY hampir tidak memiliki lawan sepadan. Popularitasnya mencerminkan kebutuhan publik terhadap ketenangan dan kepastian pasca krisis ekonomi global. Serangan politik terhadapnya tidak mengubah peta elektoral secara signifikan.
Menurut Fredi Moses Ulemlem, kondisi hari ini memiliki kemiripan dengan situasi yang dihadapi Prabowo:
- Stabilitas nasional masih menjadi tuntutan utama publik.
- Prabowo dipersepsikan sebagai figur yang menjaga kesinambungan keamanan dan kebijakan strategis negara.
- Di kalangan pemilih muda, citranya semakin menguat sebagai pemimpin yang adaptif dengan pendekatan lebih humanis dan moderat.
“Jika SBY pada 2009 menjadi simbol ketenangan pascakrisis, maka Prabowo dapat dibaca sebagai simbol stabilitas di tengah ketidakpastian dunia,” ujar Fredi pada 28 November 2024 di Menteng jakarta pusat.
Teknokrat sebagai Penjaga Kebijakan Publik
Boediono dipilih SBY bukan karena faktor popularitas, melainkan kapasitas teknokratis dan integritasnya. Ia dipercaya oleh pelaku usaha, akademisi, serta kelas menengah sebagai penjaga disiplin kebijakan ekonomi.
Hal serupa terlihat pada Purbaya Yudhi Sadewa. Menurut Fredi, karakter teknokratis Purbaya memiliki beberapa keunggulan:
- Penguasaan mendalam atas isu fiskal dan makroekonomi.
- Posisi independen karena tidak berafiliasi dengan partai politik.
- Rekam jejak sebagai pengambil kebijakan yang konsisten dan berhati-hati.
- Kredibilitas di mata investor dan pelaku usaha, terutama dalam konteks ekonomi global yang tidak stabil.
“Dalam lima tahun ke depan, tantangan ekonomi sangat berkaitan dengan kepastian regulasi. Figur teknokrat seperti Purbaya berfungsi sebagai guardrail agar kebijakan tidak terseret tarik-menarik politik,” jelasnya.
Mengunci Segmen Pemilih Rasional
Menurut analisis Fredi, keberhasilan SBY–Boediono pada 2009 ditopang oleh segmen pemilih rasional, kelas menengah, akademisi, profesional, dan komunitas usaha. Duet Prabowo–Purbaya berpotensi mengulangi pola tersebut.
Prabowo membawa narasi pertahanan, ketahanan pangan, dan stabilitas nasional. Purbaya membawa narasi fiskal, tata kelola, dan ketahanan ekonomi. Kombinasi ini menciptakan keseimbangan antara politik makro dan kebijakan teknis yang dapat menarik pemilih urban dan industri.
Dalam kacamata hukum, duet pemimpin–teknokrat ini juga menciptakan “ruang aman” bagi kebijakan ekonomi jangka panjang.
“Pemerintahan yang kuat secara politik namun cermat secara teknokratis cenderung memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap konflik kepentingan. Ini memberi ruang bagi pembangunan regulasi yang lebih stabil,” kata Fredi.
Ketidakpopuleran sebagai Nilai Tambah
Purbaya bukan figur populer dalam konteks politik elektoral. Namun menurut Fredi, hal ini justru menjadi nilai tambah di tengah kejenuhan publik terhadap politisasi berlebihan.
Fenomena ini pernah terjadi pada Boediono. Ketidakpopulerannya dibaca sebagai tanda profesionalisme dan integritas, bukan kelemahan elektoral.
“Dalam politik modern, teknokrat yang tidak mencari panggung justru lebih dipercaya sebagai penjaga kebijakan,” ujar Fredi.
Formula yang Pernah Teruji
Jika Prabowo memilih Purbaya sebagai pendamping, langkah tersebut bukan sekadar pilihan personal atau politis, melainkan strategi dengan preseden sejarah yang jelas. Formula pemimpin kuat–teknokrat kredibel terbukti efektif pada Pemilu 2009 dan masih relevan dalam konteks hari ini.
Menurut kajian Fredi Moses Ulemlem, duet Prabowo–Purbaya berpotensi menghasilkan:
- kemenangan cepat dalam satu putaran**,
- dominasi penuh pada narasi ekonomi dan stabilitas,
- terbatasnya ruang serangan bagi oposisi,
- serta tingkat kepercayaan tinggi dari dunia usaha dan lembaga keuangan internasional.
“Sejarah politik tidak selalu berulang, tetapi pola kemenangan sering kali berpijak pada struktur yang sama,” ujar Fredi.
Dengan demikian, Prabowo–Purbaya dapat dibaca sebagai aktualisasi terbaru dari formula yang pernah membawa kemenangan besar pada Pemilu 2009, namun dengan konteks politik, ekonomi, dan publik yang lebih kompleks dibandingkan dua dekade lalu.(sang)













