Politik Bukan Soal Pamrih: Kematangan Parpol Dalam Menjalankan Tanggung Jawab Publik

Oleh: Nusa Bangkit 

“Sedekah dengan pamrih kalau pakai baju parpol dan bendera parpol?”

Pertanyaan ini sering muncul setiap kali partai politik turun memberikan bantuan kepada masyarakat. Namun dalam praktik demokrasi modern, kehadiran parpol dengan identitasnya bukan bentuk pamrih, melainkan bagian dari fungsi dasar dan tanggung jawab politik yang dijalankan secara terbuka dan akuntabel.

Partai politik pada hakikatnya berorientasi pada kepentingan publik. Mereka membawa gagasan, program, dan agenda kerja yang perlu diketahui masyarakat luas. Karena itu, parpol wajib memperkenalkan diri, menampilkan programnya, dan hadir melalui berbagai instrumen komunikasi politik. Ini bukan soal ikhlas atau tidak; ini adalah kebutuhan strategis agar rakyat bisa mengenal, menilai, dan menentukan pilihan secara sadar dalam pemilu.

Contoh konkret terlihat dari PDI Perjuangan di Sumatera Barat dan Aceh, dua wilayah di mana perolehan suara partai ini selama ini tidak signifikan. Namun kecilnya dukungan tidak membuat PDI-P berkecil hati atau menyimpan dendam politik. Ketika bencana melanda daerah-daerah itu, kader PDI-P tetap turun membawa bantuan, hadir di tengah warga, dan tetap menunjukkan identitas partainya.

Inilah wujud nyata kematangan sebuah partai politik. Parpol yang dewasa tidak memandang pelayanan publik sebagai transaksi suara. Mereka tetap hadir meski tidak dipilih, tetap bekerja meski tidak menang. Penggunaan atribut partai dalam penyaluran bantuan bukanlah simbol pamrih, melainkan penegasan bahwa kepedulian mereka tidak berhenti hanya karena perolehan suara kecil.

Musibah bukan hanya momen duka, tapi juga kesempatan menebar kebaikan. Menolong korban bencana atau hadir dalam takziah menumbuhkan empati, solidaritas, dan kepedulian sosial.

Ajaran semua agama menekankan nilai ini:

  • Islam: “Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

  • Kristen: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Markus 12:31)

  • Hindu: Bertindak tanpa mengharapkan hasil (Bhagavad Gita 2.47)

  • Buddha: “Semoga semua makhluk berbahagia dan bebas dari penderitaan.”

  • Konghucu: “Jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang tidak kau suka dilakukan padamu.”

Setiap bantuan, sapaan hangat, atau gotong royong menjadi media sosialisasi kebaikan yang universal. Kehadiran PDI-P di tengah bencana tidak sekadar politik, tetapi manifestasi nilai kemanusiaan lintas agama: menolong tanpa pamrih dan membangun solidaritas. Dalam demokrasi, kematangan politik bukan diukur dari besar kecilnya suara, tetapi dari keteguhan sebuah partai untuk terus hadir, melayani, dan menebar manfaat bagi rakyat, tanpa syarat dan tanpa jeda.(sang)