Dunia Bergeser, Nusantara Bangkit

“Ketika Gejolak Selat Hormuz Membuka Momentum Baru bagi Indonesia”

Surabaya,SwaraRakyat.com – Sejarah dunia sering kali ditentukan oleh tempat-tempat yang tampak kecil di peta. Salah satunya adalah Selat Hormuz.

Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini menjadi jalur bagi hampir seperlima perdagangan minyak dunia. Setiap ketegangan yang muncul di kawasan tersebut selalu mengguncang stabilitas global.

Harga energi melonjak. Jalur perdagangan terganggu. Ketidakpastian ekonomi menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Namun sejarah geopolitik juga mengajarkan satu kenyataan penting yang sering luput dari perhatian: setiap krisis global selalu membuka ruang bagi lahirnya pusat keseimbangan baru.

Ketika satu kawasan dunia diliputi ketegangan, kawasan lain kerap memperoleh momentum untuk tampil sebagai penyangga stabilitas.

Hari ini, momentum itu perlahan mengarah ke Nusantara.

Tatanan dunia pasca Perang Dingin kini memasuki fase perubahan besar. Dominasi satu kekuatan global tidak lagi berdiri sendiri.

Konflik di berbagai kawasan, mulai dari perang Rusia–Ukraina di Eropa Timur, rivalitas Amerika Serikat dan China di kawasan Indo-Pasifik, hingga ketegangan yang terus berulang di Timur Tengah, menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju era multipolar.

Dalam setiap perubahan sistem dunia, dua hal selalu menjadi titik paling sensitif: jalur energi dan jalur perdagangan.

Ketika jalur energi global terganggu, dunia akan mencari kawasan yang mampu menjamin stabilitas perdagangan internasional.

Di sinilah letak penting Nusantara.

Indonesia berada di persimpangan dua samudra besar, Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta menjadi penghubung alami antara Asia Timur, Asia Selatan, dan kawasan Pasifik.

Jalur laut seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok merupakan arteri utama perdagangan dunia.

Jika Selat Hormuz adalah pintu energi global, maka jalur laut Nusantara adalah nadi peredaran ekonomi dunia.

Posisi strategis Nusantara bukanlah kebetulan geografis semata. Ia merupakan bagian dari memori panjang sejarah peradaban.

Berabad-abad sebelum konsep globalisasi dikenal, kepulauan Nusantara telah menjadi titik temu berbagai peradaban dunia.

Kekuatan maritim seperti Sriwijaya dan Majapahit pernah mengelola jalur perdagangan yang menghubungkan Asia Timur, India, Timur Tengah, hingga Afrika.

Namun kekuatan mereka tidak hanya bertumpu pada armada laut atau kendali jalur perdagangan.

Mereka berdiri di atas sesuatu yang jauh lebih mendasar: ketahanan pangan dan kemampuan mengelola sumber daya alam.

Sriwijaya menjaga stabilitas perdagangan laut.
Majapahit membangun jaringan pelabuhan yang ditopang oleh kekuatan produksi pangan di daratan.

Sejarah Nusantara memperlihatkan satu pelajaran penting: kekuatan maritim sejati selalu berdiri di atas fondasi pangan, perdagangan, dan stabilitas sosial.

Di tengah krisis global hari ini, satu pelajaran kembali muncul dengan jelas: negara yang tidak memiliki kedaulatan pangan akan selalu berada dalam posisi rentan.

Gangguan energi dapat meningkatkan biaya produksi pertanian.
Konflik geopolitik dapat memicu pembatasan ekspor pangan oleh negara-negara produsen.

Dalam situasi seperti itu, negara yang bergantung pada impor pangan akan menghadapi tekanan ekonomi dan sosial yang besar.

Indonesia sebenarnya memiliki semua prasyarat untuk keluar dari kerentanan tersebut.

Tanah tropis yang subur, keanekaragaman hayati yang luar biasa, serta wilayah laut yang luas menjadikan Nusantara memiliki potensi untuk menjadi salah satu kekuatan pangan terbesar di dunia.

Namun potensi itu hanya akan menjadi kekuatan geopolitik jika dikelola dengan visi strategis.

Karena itu, pembangunan lumbung pangan nasional, modernisasi pertanian, serta penguatan ekonomi maritim tidak boleh dipandang sekadar sebagai program pembangunan.

Ia merupakan bagian dari arsitektur geopolitik Indonesia di masa depan.

Perubahan besar dalam sejarah selalu membutuhkan kepemimpinan yang mampu membaca arah zaman.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini menghadapi momentum yang jarang terjadi: ketika krisis global justru membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi geopolitiknya.

Penguatan sektor pangan, pembangunan infrastruktur maritim, serta transformasi energi nasional merupakan langkah strategis untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam perubahan dunia.

Dalam perspektif Budaya Geopolitik Nusantara, kekuatan negara tidak semata-mata diukur dari kekuatan militernya, melainkan dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan sumber kehidupan.

Di titik inilah konsep kedaulatan nasional menemukan makna yang lebih dalam: kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan kedaulatan jalur perdagangan.

Sejarah dunia sedang bergerak menuju fase baru.

Ketika Timur Tengah diliputi ketegangan energi dan berbagai kawasan dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik, Nusantara memiliki peluang untuk tampil sebagai poros stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.

Dengan jalur laut strategis, kekayaan sumber daya alam, serta tradisi peradaban maritim yang panjang, Indonesia memiliki semua prasyarat untuk memainkan peran yang lebih besar dalam tatanan dunia.

Dari Selat Hormuz hingga jalur laut Nusantara, dunia sedang menyaksikan perubahan besar dalam peta kekuatan global.

Dan mungkin, tanpa banyak disadari, kita sedang memasuki sebuah fase sejarah baru:

“Kebangkitan Abad Nusantara

Oleh: Bayu Sasongko
Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara