Opini  

Perang Yang Mengubah Dunia

Riskal Arief (Peneliti Nusantara Centre)

 

Oleh: Ryo Disastro

Perang antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat–Israel yang meletus sejak akhir Februari 2026 bukan sekadar konflik kawasan. Ia adalah peristiwa yang membuka satu pertanyaan besar: apakah dunia yang kita kenal sedang berubah secara fundamental?

Serangan awal dalam Operation Lion’s Roar (Epic Fury) menandai pergeseran dari perang bayangan menjadi konfrontasi terbuka. Dalam hitungan hari, konflik ini menjalar menjadi perang multi-front, melibatkan Teluk, Lebanon, hingga jalur energi global. Sekitar 2000 orang telah menjadi korban. Miliaran Dollar telah hangus terbakar. Ini bukan perang yang dampaknya diukur hanya dari sisi militer, tetapi juga langsung mengguncang sistem ekonomi dunia: harga energi melonjak, jalur distribusi terganggu, dan ketidakpastian global meningkat tajam.

Sejumlah analis justru melihatnya sebagai bagian dari perubahan struktur kekuasaan global. Profesor Ibrahim Ozturk menegaskan bahwa konflik ini tidak bisa dipahami secara terpisah, melainkan sebagai “persilangan antara keamanan energi, dinamika militer regional, dan rivalitas kekuatan besar dunia”. Dengan kata lain, ini adalah konflik yang berdiri di atas fondasi geopolitik global, bukan hanya regional. Hegemoni AS sedang diuji. Walaupun kekuatan militernya masih sangat dominan secara statistik-infrastruktur Iran dihantam, elite militernya dilemahkan, dan tekanan internasional meningkat-namun di sisi lain, perang ini justru menguji batas-batas kekuatan AS tersebut.

Menurut catatan Bassam Haddad, kampanye militer yang awalnya dimaksudkan untuk menegaskan supremasi Barat justru berpotensi menjadi “titik balik yang menandai penurunannya”. Iran, meskipun secara konvensional lebih lemah, mampu memainkan strategi perang asimetris yang penuh perhitungan: mengganggu pasokan energi global, menyerang titik-titik strategis, dan memperluas medan konflik tanpa harus memenangkan perang secara langsung. Ibarat bermain catur, Iran sudah memiliki rencana 10 Langkah ke depan, sedangkan AS-Israel tampak limbung dan berperang secara sporadis.

Inilah wajah baru konflik global: kemenangan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling kuat secara militer, tetapi oleh siapa yang mampu mengganggu sistem secara paling efektif. Salah satu dimensi paling menentukan dari perang ini adalah bergesernya perang militer menjadi perang energi. Serangan terhadap ladang gas dan ditutupnya Selat Hormuz menunjukkan bahwa energi kini bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen kekuasaan, dan sejauh ini Iran yang tampak mendominasi.

Ketika Iran membatasi jalur ini, hampir seluruh dunia merasakan dampaknya. Harga minyak melonjak drastis, inflasi meningkat, dan bahkan pertumbuhan ekonomi negara-negara besar terancam. Dalam logika ini, Iran mungkin tidak mampu mengalahkan AS secara militer, tetapi ia mampu “menghukum” sistem global dan itu cukup untuk mengubah kalkulasi geopolitik.

Seorang analis bahkan menyebut strategi Iran sebagai upaya untuk “menaikkan biaya perang bagi Washington jauh melampaui kapasitas militernya”. Ini adalah bentuk kekuatan yang berbeda: kekuatan disruptif. Tekanan terhadap AS bukan hanya dari Iran, tetapi juga dari dalam negerinya sendiri. Kita lihat banyak politisi yang berseberangan dengan Trump ingin mengakhiri perang. Bahkan yang terbaru, Joe Kent mundur dari jabatan Direktur NCTC (Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional) AS dan menyebut perang Iran dipicu tekanan lobi Israel, bukan ancaman nyata bagi Amerika Serikat.

Hegemoni Terancam Runtuh 

Konflik ini juga memperlihatkan satu hal yang semakin jelas: dunia tidak lagi berada dalam satu pusat kekuasaan. Dalam konteks ini, perang kali ini bukan hanya tentang Iran. Ia adalah bagian dari kontestasi yang lebih luas, melibatkan China dan Rusia sebagai aktor bayangan yang tidak terlibat langsung, tetapi diuntungkan secara strategis.

Keduanya memanfaatkan konflik ini sebagai bentuk strategic leverage: China berkepentingan menjaga akses energi jangka panjang dari Timur Tengah sekaligus mendorong penggunaan mata uang non-dollar (yuan) dalam perdagangan internasional, sementara Rusia diuntungkan oleh kenaikan harga minyak dan gas yang memperkuat posisi fiskalnya di tengah tekanan Barat. Di sisi lain, keterlibatan minimal memungkinkan keduanya menghindari biaya perang langsung, sambil memperluas pengaruh geopolitik melalui diplomasi, perdagangan, dan kemitraan strategis dengan negara-negara yang terdampak konflik.

Konflik ini, sebagaimana dicatat dalam kajian geopolitik mutakhir, telah menjadi “salah satu ujian utama bagi tatanan global yang sedang muncul”. Dengan kata lain, Timur Tengah kembali menjadi laboratorium geopolitik dunia. Bedanya, jika dahulu ia menjadi arena pertarungan dua blok besar, kini ia menjadi ruang pertemuan berbagai kepentingan yang lebih cair dan kompleks. Tidak ada lagi garis tegas antara kawan dan lawan. Yang ada adalah jaringan kepentingan yang saling bertumpuk.

Apa yang akan muncul dari akhir konflik ini bukanlah dunia dua blok seperti era Perang Dingin, melainkan dunia multipolar yang jauh lebih cair dan karena itu, lebih rapuh. Tidak ada satu kekuatan yang mampu mengendalikan semuanya. Amerika Serikat masih kuat, tetapi terbatas. China dan Rusia menguat, tetapi belum dominan. Negara-negara regional seperti Iran justru mampu memainkan peran yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, konflik tidak mudah berakhir. Ia cenderung melebar, berlapis, dan berdampak global. Dunia menjadi lebih seimbang, tetapi sekaligus lebih tidak stabil.

Indonesia Dimana?

Indonesia memasuki lanskap geopolitik yang berubah ini dengan warisan historis yang tidak dimiliki banyak negara: tradisi non-blok sejak Konferensi Asia Afrika 1955. Namun dalam konteks dunia yang tidak lagi bipolar, posisi ini berevolusi menjadi praktik multi-alignment, yaitu politik luar negeri yang multi-arah. Kita bisa lihat saat ini Indonesia menjalin hubungan simultan dengan Amerika Serikat, China, hingga negara-negara Timur Tengah.

Di tengah konflik Iran vs AS–Israel, pendekatan ini menjadi relevan sekaligus dilematis. Indonesia dituntut menjaga konsistensi politik luar negeri yang secara moral dekat dengan isu Palestina namun tetap berhitung secara pragmatis dalam relasi dengan kekuatan global. Dengan kata lain, diplomasi Indonesia bergerak dalam ruang sempit antara idealisme historis dan realitas geopolitik kontemporer.

Di sisi lain, dampak konflik terasa sangat konkret. Lonjakan harga minyak dunia langsung menekan APBN, memperbesar beban subsidi, serta memicu inflasi dan pelemahan daya beli. Bahkan skenario terburuk menunjukkan defisit fiskal berpotensi melampaui batas jika harga energi terus meningkat.

Namun di balik tekanan tersebut, terbuka pula peluang: fragmentasi global mendorong pergeseran rantai pasok dan membuka ruang bagi Indonesia sebagai pemain alternatif dalam manufaktur dan komoditas strategis. Tantangannya terletak pada faktor internal ketergantungan energi impor, struktur industri yang belum matang, serta kerentanan terhadap gejolak eksternal yang jika tidak dibenahi justru akan menempatkan Indonesia hanya sebagai pasar dalam tatanan dunia yang baru.

Konflik Iran vs AS–Israel memperlihatkan bahwa geopolitik tidak lagi jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir dalam bentuk harga energi, stabilitas ekonomi, hingga arah kebijakan global. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia harus memilih blok, melainkan: bagaimana Indonesia membaca perubahan ini—dan sejauh mana ia siap menjadi pemain, bukan sekadar penonton, dalam tatanan dunia baru yang sedang terbentuk?(*)

Referensi:

https://apnews.com/article/a7e51335d9ce790dbf6bc377ed2763a9

https://www.ft.com/content/d4c3f857-eb50-47c5-a109-050a8c2f2346
https://www.theguardian.com/world/2026/mar/14/how-iran-war-escalate-vietnam-trump-netanyahu-us-israel
https://thediplomaticinsight.com/war-on-iran-emerging-multipolar-order/
https://www.antaranews.com/berita/5449826/perang-as-iran-indonesia-hitung-dampak-lonjakan-harga-minyak-ke-apbn
https://www.reuters.com/world/asia-pacific/indonesia-minister-says-sustained-high-oil-prices-could-see-budget-deficit-2026-03-13/